STARJOGJA.COM, Info – Pemerintah Kabupaten Sleman meluncurkan dashboard Satu Data Stunting pada 21 Oktober 2026 lewat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman, Seruni Anggreni Susila mengatakan dashboard ini diresmikan langsung oleh Wakil Bupati selaku Ketua TPPS Sleman.
“Yang jelas, memang satu data ini kita harapkan bisa digunakan langsung oleh setiap stakeholders baik level kabupaten sampai tingkat kalurahan,” katanya Senin (26/10/2026).
Seruni menjelaskan, penanganan stunting tidak hanya urusan kesehatan. Sekitar 70 persen di antaranya merupakan intervensi sensitif, seperti ketahanan keluarga, air bersih, dan ketersediaan pangan protein hewani.
“Selama ini saat desa ingin mendapatkan data ataupun tingkat kecamatan hingga para pimpinan daerah, dapat datanya itu kita semua harus kumpul dulu, saling sharing data, saling presentasi, baru semua bisa melakukan aksinya masing-masing,” ujarnya.
Dengan bantuan Dinas Kominfo, setiap perangkat daerah kini memperbarui datanya secara berjenjang, dari puskesmas hingga kalurahan. Dashboard menampilkan kasus baru dan keluarga berisiko stunting, misalnya yang tidak ikut program KB atau mengalami kehamilan yang tidak direncanakan.
“Sehingga pemerintah daerah sampai kalurahan ngerti, oh di wilayah kami yang keluarga yang risiko tinggi ada sekian, ini yang harus kita tangani supaya nggak melahirkan atau menjadi ada balita stuntingnya,” kata Seruni.
Dashboard ini dibuka untuk publik, tetapi hanya menampilkan data agregat sampai level kalurahan. Data per orang tidak dibuka karena terikat aturan kerahasiaan medis. Ke depan, Kominfo mengembangkannya dengan data sarana air bersih, jamban, dan intervensi dari Dinas PU serta Dinas Pendidikan.
Penurunan stunting di Sleman disebut terjadi cukup drastis sejak 2021 dan 2022, sehingga kini makin sulit diturunkan. Menurut Seruni, penyebabnya tidak tunggal, mulai dari pola asuh hingga anggota keluarga yang merokok.
“Di Sleman itu, balita stunting ternyata kita temukan nggak hanya dari keluarga yang ekonomi menengah ke bawah. Justru banyak yang menengah dan bahkan ke atas yang pengasuhan si balitanya itu tidak dilakukan oleh orang tua,” ujarnya.
Seruni menyebut angka stunting nol tidak mungkin dicapai karena ada kelainan bawaan. Yang ditekan adalah kasus murni akibat pola asuh keliru atau kondisi ekonomi, dan Dinkes mengampanyekan keluarga bebas asap rokok, terutama bagi keluarga berbalita.
“Jadi kami bukan melarang orang untuk merokok, tidak. Tapi bijaklah,” kata Seruni.
Karakter wilayah juga memengaruhi hasil prevalensi stunting. Berbah yang bersifat suburban dan dihuni keluarga baru berliterasi tinggi angkanya turun, sedangkan di beberapa daerah lain yang angkanya masih tinggi cenderung memiliki pola pikir lama bahwa yang penting kenyang.
“Kualitas jangan cuman sekadar kenyang, itu aja,” ujarnya.
Sehingga, korelasi dari kasus ini maka Pemkab Sleman juga menyiapkan program Mata Hati untuk kesehatan jiwa remaja. Program ini diharapkan membuat remaja matang secara emosi dan siap mengasuh anak saat berkeluarga nantinya.
“Kami harapkan remaja bisa mengeluarkan unek-uneknya atau masalah hidupnya dengan baik ke layanan yang tepat, yang profesional,” tutur Seruni.
Target utama dashboard adalah membuat intervensi tiap perangkat daerah dan kalurahan lebih terarah. Penganggaran diharapkan tidak lagi sekadar menyalin kegiatan tahun sebelumnya.
“Jadi setiap sen rupiah pajak yang dikeluarkan oleh warga masyarakat kita itu terarah bentuknya, kembali ke masyarakat dan tepat sasaran,” katanya.
Sementara itu Kus Haryani warga Sariharjo, Ngaglik yang juga Kader Posyandu mengatakan adanya dashboard satu data stunting ini akan membuat masyarakat terutama generasi muda dapat mengakses informasi yang bermanfaat dan valid. Sehingga generasi muda ini tidak berpaku pada media sosial yang belum tentu kebenarannya.
“Jadi kalau disitu banyak ilmu yang mudah didapat generasimuda ini bagus banget, angan muda jangan cuma mengakses atau seraching dari sosmed kan, kalau dari dinas kan tentu jelas benar dan pasti baik,” katanya.
Baca juga : Sleman Berhasil Turunkan Angka Kasus Stunting







Comments