FeatureKota JogjaNews

Malioboro Mulyá Wujudkan Ruang Publik yang Nyaman, Hidup, dan Berbudayaan

0
Malioboro Mulyá

STARJOGJA.COM,JOGJA. Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) terus mematangkan program transformasi kawasan Malioboro melalui konsep Malioboro Mulyá. Langkah strategis ini dihadirkan untuk mewujudkan ruang publik yang tidak hanya ramah wisatawan, tetapi juga nyaman, hijau, dan sarat akan nilai budaya.

Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi,Drs. Aryanto Hendro Suprantoro, menjelaskan bahwa esensi utama dari program Malioboro Mulyá adalah memuliakan manusia, baik warga lokal, tamu, maupun wisatawan—serta menjaga nilai-nilai filosofis yang melekat sejak berdirinya Yogyakarta.

“Ketika kemudian Pemerintah Daerah DIY mencanangkan Malioboro Mulyá, sebenarnya yang dimuliakan itu adalah manusianya. Dimensinya banyak, tidak hanya dimensi ekonomi, tetapi karena isu utama hari ini ekonomi memegang peranan penting dalam membangun peradaban,” ujar Hendro saat berbincang dalam program Bicara Jogja di STAR FM Jogja.

Hendro menambahkan, pelestarian Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui oleh UNESCO bukan sekadar merawat bentuk fisiknya saja, melainkan menjaga nilai-nilai luhur di dalamnya, seperti sangkan paraning dumadi dan hamemayu hayuning bawono.

Sebagai bagian dari perwujudan visi tersebut, Pemda DIY melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY melakukan alih fungsi lahan di kawasan utara Malioboro.

Kepala Bidang Rehabilitasi, Konservasi Alam, dan Perlindungan Hutan DLHK DIY, Feri Mariulianti, S.P., memaparkan bahwa eks kantong parkir Abu Bakar Ali (ABA) kini tengah disulap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik.

“Transformasi kantong parkir Abu Bakar Ali menuju ruang terbuka hijau publik ini merupakan langkah strategis dalam mewujudkan visi Malioboro Mulyá yang berorientasi pada kesehatan masyarakat. Konsep utamanya mengubah ruang dari yang tadinya berfungsi sebagai parkir dengan bangunan beton, dirubah menjadi bangunan tanaman hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan,” jelas Feri.

Feri merinci, progres pembangunan RTH ABA saat ini telah mencapai sekitar 43,375 persen dan ditargetkan rampung pada akhir Desember.

RTH ini nantinya akan dilengkapi dengan jalur jogging track ramah difabel dan lansia, fasilitas toilet, serta penanaman vegetasi lokal yang tidak hanya berfungsi secara ekologis menyerap karbon dan memproduksi udara bersih.

” Pohon yang ditanam memiliki nilai filosofis, seperti pohon asam jawa dan gayam yang dilengkapi dengan penanda pohon (tagging tree) sebagai sarana edukasi.

Meskipun mengusung konsep ruang terbuka hijau publik, Feri menegaskan bahwa area tersebut nantinya akan dilengkapi dengan sistem pengamanan dan pembatasan jam kunjungan. Hal ini dilakukan mengingat letaknya yang berbatasan langsung dengan rel kereta api serta jalur lalu lintas yang padat, demi menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung.

“Dengan adanya pagar, akses masuk dapat lebih terkendali sehingga risiko pengunjung memasuki area berbahaya dapat diminimalkan. Masyarakat pun dapat menikmati ruang terbuka hijau dengan lebih aman dan nyaman,” terangnya.

Melalui sinergi lintas instansi dan dukungan penuh dari masyarakat, program Malioboro Mulyá diharapkan mampu menghadirkan wajah baru Yogyakarta yang asri, sejuk, berbudaya, serta memberikan dampak kesejahteraan yang merata bagi warga maupun pelaku UMKM lokal.

“Mengganti ruang-ruang beton menjadi ruang hijau diharapkan akan menambah kesejahteraan. Karena indikator kesejahteraan manusia adalah salah satunya sehat dari lingkungannya.Lingkungan yang sehat,bersih akan mendukung kesehatan warganya,” tutup Hendro.

Didik Nini Thowok Ajak Anak Muda Pegang Filosofi Napak Lemah

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature