STARJOGJA.COM, JOGJA– Kasus infeksi saluran pernapasan, khususnya Influenza A, dilaporkan menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi cuaca yang kering dan berdebu turut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan virus yang dikenal mudah menyebar ini.
Dalam program Health Talk STARJOGJA FM, dr. Nur Rahmi Ananda, Sp.PD., dokter spesialis penyakit dalam dari RSUP Dr. Sardjito,menjelaskan, Influenza A bukanlah virus baru dalam dunia kesehatan. Virus ini merupakan salah satu penyebab flu musiman (seasonal flu). Salah satu galur yang beredar adalah H1N1.
Meski tidak selalu menyebabkan kondisi berat, Influenza A tetap perlu diwaspadai karena dapat mengalami perubahan genetik. Sifat virus influenza yang mudah berubah membuat pemantauan dan upaya pencegahan menjadi penting.
Gejala Influenza A juga dapat terasa lebih berat dibandingkan flu biasa. Penderita umumnya mengalami demam tinggi yang muncul secara mendadak selama dua hingga tiga hari, nyeri otot dan sendi, tubuh lemas, sakit kepala, serta batuk kering.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan, terutama jika gejala tidak kunjung membaik atau justru disertai tanda bahaya. Masyarakat sebaiknya tidak menganggap semua keluhan flu sebagai penyakit ringan yang bisa diabaikan.
Ia menjelaskan Pada orang dengan kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh yang baik, Influenza A umumnya dapat membaik dengan istirahat, asupan cairan yang cukup, dan penanganan gejala yang sesuai.
Namun, risiko komplikasi dapat meningkat pada kelompok tertentu. Tiga kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah lansia berusia di atas 65 tahun, anak-anak di bawah usia lima tahun, serta ibu hamil.
“Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau demam tinggi yang tidak kunjung turun setelah dua hingga tiga hari, penderita perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis,” tegasnya.
Dokter dapat menilai apakah pasien memerlukan penanganan lebih lanjut, termasuk pemberian obat antivirus seperti oseltamivir. Penggunaan antivirus harus berdasarkan pertimbangan tenaga medis, terutama pada pasien yang berisiko mengalami komplikasi.
Salah satu faktor yang mempercepat penyebaran Influenza A adalah penularan melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.
“Karena itu, penggunaan masker saat mengalami gejala flu, terutama ketika berada di ruang publik atau berdekatan dengan orang lain, menjadi langkah pencegahan yang penting,” lanjutnya.
Masyarakat juga dianjurkan menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut serta hidung menggunakan tisu atau lipatan siku. Setelahnya, segera bersihkan tangan dan hindari kontak dekat dengan orang yang rentan.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko penularan di rumah, tempat kerja, sekolah, maupun transportasi umum.
Dalam obrolan ini, dr. Nur Rahmi juga menyoroti Kesalahan lain yang masih sering terjadi di masyarakat ,saat mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan atau resep dokter ketika mengalami flu.
Padahal, Influenza A disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotik tidak bekerja untuk membunuh virus influenza.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antimikroba, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi semakin sulit diatasi dengan obat yang tersedia.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak membeli atau mengonsumsi antibiotik secara sembarangan. Jika gejala cukup berat, menetap, atau memburuk, pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.
Selain mengurangi risiko paparan virus, menjaga kondisi tubuh tetap prima juga menjadi bagian penting dari pencegahan. Dalam diskusi tersebut, masyarakat diajak menerapkan pola hidup sehat dengan formula SEHAT.
S — Seimbang dalam memenuhi kebutuhan gizi. Konsumsi makanan bergizi dengan asupan protein berkualitas, sayur, buah, dan mineral yang cukup untuk mendukung fungsi tubuh.
E — Enyahkan rokok. Hindari merokok dan paparan asap rokok yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
H — Hindari stres berlebihan. Kelola tekanan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari agar tubuh memiliki kesempatan untuk beristirahat dan pulih.
A — Awasi tekanan darah. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, khususnya bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit kronis.
T — Turuti rutinitas olahraga dan istirahat. Lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kemampuan serta penuhi kebutuhan tidur. Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam.
Pola hidup sehat tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari infeksi. Namun, kebiasaan tersebut membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan dan mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.







Comments