STARJOGJA.COM, Info – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan tentang risiko penggunaan kecerdasan buatan atau AI secara berlebihan dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Karena itu, pemanfaatan teknologi tersebut perlu diimbangi latihan kognitif yang mendorong proses berpikir mandiri.
“Jadi kalau kita menggunakan AI untuk men-training, misalnya kita diskusi sama AI-nya, itu mungkin akan bisa membantu kita. Tetapi, kalau kita menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban cepat, pasti otaknya juga tidak akan bisa berkembang,” kata Stella Christie di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Stella, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI yang menggantikan proses berpikir mandiri berpotensi berkaitan dengan penurunan kemampuan akademik dan analisis. Ia mengutip studi yang menemukan siswa yang menggunakan AI setiap hari memperoleh skor sains lebih rendah dibandingkan siswa yang hampir tidak pernah menggunakannya.
Stella juga merujuk penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang membandingkan kemampuan mahasiswa menulis esai dengan bantuan AI, mesin pencari internet, dan tanpa bantuan teknologi. Dalam penelitian tersebut, kualitas esai mahasiswa yang menggunakan AI disebut lebih rendah dibandingkan mereka yang mengerjakan tugas secara mandiri.
Ia turut mencontohkan penelitian terhadap calon dokter yang menunjukkan penurunan kemampuan diagnostik dari 28 persen menjadi 22 persen setelah menggunakan AI selama tiga bulan. Namun, Stella tidak merinci metode maupun konteks pengukuran dalam penelitian tersebut.
“Penggunaan AI yang seperti apa yang bisa membuat kita tambah pintar atau kurang pintar,” ucap Stella.
Sebagai ilmuwan kognitif, Stella menekankan pentingnya melatih otak secara berkelanjutan agar kemampuan berpikir terus berkembang. Menurutnya, AI tetap dapat mendukung pembelajaran apabila digunakan sebagai sarana diskusi dan analisis, bukan sekadar alat untuk memperoleh jawaban instan.
Ia menilai larangan semata bukan pendekatan yang cukup untuk menghadapi perkembangan teknologi tersebut. Generasi muda perlu dibekali pemahaman tentang cara menggunakan AI secara tepat agar manfaatnya dapat diperoleh tanpa mengabaikan kemampuan berpikir mandiri.
Di lingkungan pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong mahasiswa terlibat dalam penelitian dan forum akademik. Kegiatan tersebut diharapkan dapat merangsang kemampuan analitis sekaligus mendorong lahirnya inovasi.
Selain berdampak pada proses belajar, Stella menyoroti perubahan peluang kerja bagi lulusan baru akibat perkembangan AI. Pekerjaan seperti entri data, misalnya, kini dapat dilakukan dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah menggunakan teknologi tersebut.
Untuk mengantisipasi perubahan itu, pemerintah berupaya memetakan kebutuhan tenaga kerja, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi, kemudian menyelaraskannya dengan pendidikan tinggi. Langkah ini diharapkan membantu perguruan tinggi mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Stella menegaskan pentingnya kolaborasi antara kampus dan industri agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat.
Sumber : Antara
Baca juga : Kerap Dijadikan Dokter Pribadi Peneliti UGM Ingatkan Batasan Penggunaan AI untuk Kesehatan







Comments