STARJOGJA.COM, JOGJA — Usaha kerajinan kulit Sepatuku Manding milik Wadini (58) di Manding, Bantul, tetap mempertahankan penggunaan 100% kulit asli di tengah persaingan industri alas kaki modern. Usaha yang berlokasi di Manding, Bantul ini tetap menggunakan 100% kulit asli sapi dan domba meski banyak perajin yang beralih ke bahan sintetis.
“Kami menggunakan kulit sapi dan domba. Kulit domba kami ambil dari Magetan karena kualitasnya lebih baik. Kalau kulit kambing tidak kami pakai untuk sepatu karena teksturnya lebih kasar,” ucap Wadini saat ditemui di lokasi usahanya Selasa (14/07/2026).
Wadini, yang telah berkecimpung di dunia kerajinan kulit sejak 1993, memulai usaha Sepatuku Manding bersama suaminya sejak 16 September 2008.
“Kami memulai usaha ini benar-benar dari nol secara mandiri sebagai sepasang suami istri. Kunci kami bisa bertahan sampai sekarang adalah kepercayaan pelanggan pada keaslian kulit dan kecepatan pengerjaan kami,” jelas Wadini.
Wadini mengungkapkan bahwa selain mempertahankan kualitas bahan, Sepatuku Manding juga menyesuaikan strategi pemasaran dengan memanfaatkan media sosial TikTok melalui akun @Sepatukumanding untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Sekarang promosi kami juga lewat TikTok supaya lebih banyak orang mengenal produk kami. Alhamdulillah cara ini cukup membantu kami,” ungkap Wadini.
Wadini menyebut jumlah perajin kulit di kawasan Manding menyusut dari sekitar 80 menjadi 40 perajin akibat tekanan ekonomi dan persaingan bahan baku. Meskipun demikian, Sepatuku Manding tetap menjaga produksinya setiap hari dengan menawarkan berbagai produk kulit.
“Meskipun namanya Sepatuku Manding, tapi produk kami tidak hanya sepatu. Kami juga menerima pesanan tas, dompet, dan jaket kulit,” ucap Wadini.
Dengan dukungan tiga perajin, Sepatuku Manding mampu menyelesaikan pesanan sepatu dalam waktu paling cepat dua hari, bergantung pada tingkat kesulitannya. Selain melayani konsumen perorangan, Sepatuku Manding juga menerima pesanan dari instansi pemerintah, sekolah, dan komunitas, serta menyediakan layanan restorasi produk kulit.
“Servis produk kulit juga menjadi salah satu penopang usaha kami. Jadi, tidak hanya mengandalkan penjualan produk saja,” tutur Wadini.
Baca juga: UMKM Perempuan DIY Wujudkan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Penulis: Khoirul Fitrian Baroroh







Comments