STARJOGJA.COM,JOGJA. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, permainan tradisional atau dolanan anak semakin jarang dijumpai. Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama gawai dan permainan virtual dibanding bermain di luar rumah bersama teman sebaya.
Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan banyak nilai penting yang bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Mulai dari melatih kemampuan motorik, membangun kerja sama, menanamkan sportivitas, hingga memperkenalkan budaya lokal sejak dini.

Penggiat dolanan anak dari Taman Siswa, Yuli Miroto, menjelaskan bahwa permainan tradisional dan dolanan anak sebenarnya memiliki karakter yang berbeda.
Menurutnya, permainan tradisional lebih menitikberatkan pada aktivitas fisik dan olahraga, seperti gobak sodor, kasti, maupun egrang. Sementara dolanan anak memadukan unsur permainan dengan seni, seperti tembang, gerak tari, dan sastra Jawa.
“Melalui dolanan anak, anak-anak tidak hanya bergerak, tetapi juga belajar bahasa, seni, dan rasa kebersamaan,” ujarnya.
Salah satu permainan tradisional yang masih sering dimainkan di sekolah adalah egrang.
“Meski terlihat sederhana, permainan ini mengajarkan banyak nilai kehidupan,” jelasnya.
Yuli mengatakan anak yang belajar bermain egrang akan dilatih untuk tidak mudah menyerah. Mereka juga belajar mengendalikan diri, berhati-hati dalam mengambil langkah, serta bersabar karena permainan ini tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.
Menurutnya, filosofi tersebut menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan kejujuran, kerja sama, gotong royong, dan kepatuhan terhadap aturan selama bermain.
Tidak hanya melatih fisik, dolanan anak juga menjadi media pelestarian budaya, terutama bahasa Jawa.
Yuli mengungkapkan, saat ini semakin sedikit anak yang terbiasa menggunakan bahasa Jawa di lingkungan keluarga.
“Melalui tembang-tembang dalam dolanan anak, mereka dikenalkan kembali pada kosakata, sastra, sekaligus makna yang terkandung di dalamnya,” lanjutnya.
Aktivitas tersebut juga membantu mengasah kemampuan berpikir, konsentrasi, dan kepekaan anak terhadap irama serta kerja sama dengan teman.

Komunitas Padang Bulan Hadirkan Ruang Bermain Tanpa Gadget
Upaya melestarikan permainan tradisional juga dilakukan oleh Komunitas Padang Bulan di Kampung Mangkuyudan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Komunitas yang berdiri sejak 2017 ini rutin mengajak anak-anak bermain bersama setiap Jumat menjelang bulan purnama.
Salah satu penggerak komunitas, Hanif, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keprihatinan melihat semakin sempitnya ruang bermain anak dan meningkatnya penggunaan gadget.
“Melalui kegiatan itu, anak-anak diajak menikmati berbagai permainan tradisional secara langsung sekaligus membangun interaksi sosial dengan teman sebaya,” jelasnya.
Tak hanya memainkan permainan lama, komunitas ini juga memodifikasi sejumlah permainan agar lebih menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Setiap kegiatan juga diakhiri dengan sesi refleksi, dongeng, dan diskusi ringan agar anak memahami makna dari permainan yang baru saja dimainkan,” lanjutnya.

Sementara itu, Khalaya, salah satu peserta kegiatan Padang Bulan, mengaku lebih menyukai permainan tradisional dibanding bermain menggunakan telepon genggam.Menurutnya, permainan seperti lompat tali terasa lebih seru karena bisa dimainkan bersama teman-teman dan memiliki tantangan di setiap levelnya.
Selain itu, ia juga merasa mendapatkan banyak teman baru serta pengalaman berbeda yang tidak diperoleh ketika bermain melalui layar ponsel.

Museum Kolong Tangga Jadi Ruang Belajar Budaya
Pengelola museum, Redi Kuswanto, mengatakan pihaknya tidak hanya menyimpan koleksi permainan tradisional, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak untuk mengenal dan memainkannya sesuai usia.
Berbagai kegiatan seperti workshop, pameran, hingga sesi bermain interaktif rutin digelar agar anak-anak dan keluarga dapat mengenal permainan tradisional dengan cara yang menyenangkan.
“Permainan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya bangsa. Jika tidak dikenalkan kepada generasi muda, dikhawatirkan nilai-nilai budaya tersebut akan perlahan hilang,” terangnya.
Peran Orang Tua Sangat Penting
Yuli menilai pelestarian dolanan anak tidak bisa hanya mengandalkan sekolah maupun pemerintah. Peran keluarga justru menjadi fondasi utama.Ia berharap orang tua mulai menyediakan waktu untuk mengajak anak bermain permainan tradisional di rumah maupun lingkungan sekitar.
“Kegiatan sederhana seperti bermain gobak sodor, engklek, lompat tali, atau layang-layang bersama dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget sekaligus mempererat hubungan keluarga,” terangnya.
Selain keluarga, pelestarian permainan tradisional juga membutuhkan dukungan masyarakat, sekolah, pemerintah daerah, hingga komunitas agar ruang bermain anak tetap tersedia.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, Yuli menyebut dolanan anak menjadi pengingat bahwa permainan terbaik bukan hanya yang menghibur, tetapi juga mampu membentuk karakter, mempererat hubungan sosial, serta menjaga warisan budaya Indonesia tetap hidup dari generasi ke generasi.







Comments