STARJOGJA.COM, JOGJA— Ekstrakurikuler seni tari di SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta berhasil menorehkan prestasi melalui karya tari kreasi yang diciptakan secara mandiri oleh pembina dan siswa. Prestasi tersebut diraih setelah karya orisinal mereka berhasil meraih juara tiga tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pembina ekskul seni tari, Vincentius Adam Prabowo atau yang akrab disapa Ki Adam, mengatakan setiap karya yang dihasilkan merupakan ciptaan orisinal yang dikembangkan melalui proses riset dan penggarapan mandiri. Proses penciptaannya memakan waktu sekitar enam bulan, sedangkan siswa mulai dilibatkan secara intensif pada tahap akhir untuk mengeksekusi koreografi yang telah disusun.
“Kalau untuk konsep, kemudian gerak, kostum, itu dari kami riset sendiri. Terus untuk musiknya itu dikolaborasikan dengan pihak lain. Yang menarikan itu yang aktif di sekolah ini dan juga alumni, karena goals-nya waktu itu kita ciptakan untuk bikin satu karya plus ada event FLS3N,” jelas Adam.
Karya tersebut pertama kali diikutkan dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) dan menempati peringkat tujuh tingkat Kota Yogyakarta. Pada tahun berikutnya, karya yang sama berhasil meraih juara tiga tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Masih di peringkat tujuh se-Kota Jogja. Terus habis itu kita coba lagi, lolos di tahun berikutnya itu kita juara tiga, itu se-Jateng DIY waktu itu,” ujar Adam.
Dalam proses penciptaannya, ekskul seni tari banyak menggali inspirasi dari hasil riset budaya lokal, terutama nilai-nilai yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta. Hasil riset tersebut kemudian diterjemahkan menjadi koreografi baru tanpa meninggalkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
“Kita riset yang paling dekat, kiblat kebudayaan kan pasti di Keraton Jogja. Keraton sebagai sumber kebudayaan kemudian itu kita angkat sebagai nilai-nilai yang akan kita ubah bentuknya menjadi sebuah koreografi,” ungkap Adam.
Menurut Adam, keseriusan dalam mengembangkan karya juga ditunjukkan melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk melindungi hasil ciptaan mereka. Selain itu, sekolah menjalin kemitraan dengan Dinas Kebudayaan yang membuka kesempatan bagi siswa untuk tampil dalam berbagai agenda budaya di kawasan Malioboro.
“Kami itu dua karya ya, itu sebenarnya udah masuk HAKI. Jadi dari koreografi, musik, kemudian gerak, kami sudah daftarkan HAKI, jadi nggak boleh diganti asal-asalan tanpa seizin kami,” tegasnya.
Adam mengungkapkan, latihan ekskul seni tari dilaksanakan secara rutin satu kali dalam sepekan di pendopo sekolah. Namun menjelang kompetisi atau pertunjukan tertentu, intensitas latihan ditingkatkan hingga enam sampai delapan kali pertemuan dalam satu musim persiapan.
“Kalau regulernya memang seminggu sekali untuk yang event ekstra. Tapi kalau misalnya kita menghadapi satu event, kita punya target sih enam sampai delapan kali pertemuan untuk sekali season,” ujar Adam.
Melalui latihan yang konsisten dan pengembangan karya berbasis budaya lokal, ekskul seni tari SMP Taman Dewasa Jetis terus berupaya mencetak prestasi sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap seni dan budaya daerah.
Baca juga: Sandjivvane Integrative Support Kembangkan Pendidikan Inklusi melalui Program Seni dan Lokakarya
Penulis: Khoirul Fitrian Baroroh







Comments