STARJOGJA.COM, JOGJA— Grha Keris bersama Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sejumlah perguruan tinggi serta museum menggelar workshop bertajuk Anjejamas Pusaka guna memperluas edukasi perawatan keris dan melestarikan warisan budaya kepada masyarakat.
Alexandri Luthfi , moderator workshop menjelaskan keris tidak hanya dipandang sebagai senjata, tetapi juga karya seni adiluhung yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan spiritual. Menurutnya, sejak diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2005, keris perlu dirawat agar nilai-nilainya tetap terjaga.
“Ketika keris memiliki nilai seni, fungsinya berkembang menjadi benda budaya yang kemudian disebut sebaga pusaka. Karena itu keris memang harus dirumat, salah satunya melalui proses jamasan ini,” ungkap Alex (8/07/2026).
Workshop Anjejamas Pusaka dikelola oleh delapan orang dengan melibatkan praktisi, akademisi, serta empu keris. Praktisi pelestarian keris, Agung, menjelaskan apabila setiap bilah keris memiliki karakter yang berbeda sehingga memerlukan metode perawatan yang tidak sama.
“Setiap keris memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penangannya juga tidak bisa disamakan. Ada yang cukup dijamasi dan ada juga yang memerlukan perawatan lebih lanjut sesuai tingkat korosinya,” ujar Agung.
Agung mengungkapkan proses jamasan sebaiknya dilakukan pada bulan Suro sebagai bagian dari tradisi perawatan pusaka. Namun, perawatan tidak perlu menunggu bulan Suro satu tahun apabila kondisi bilah sudah kotor.
“Jika bilah sudah kotor, jamasan bisa segera dilakukan lebih awal supaya tingkat korosi dapat diketahui dan kerusakan bisa dicegah sejak dini,” tambahnya.
Sementara itu, Tejo Tukirno sebagai empu sekaligus akademisi seni rupa menuturkan jamasan tidak sekadar membersihkan keris, melainkan juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur serta sarana memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pusaka.
“Jamasan adalah sebuah kesadaran. Tidak hanya membersihkan keris, tetapi juga memahami makna, sejarah, dan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” ucap Tejo.
Menurut Tejo, keris merupakan peninggalan leluhur yang merefleksikan karakter dan nilai-nilai kehidupan para leluhur.
“Ketika kita melihat keris, kita dapat melihat karakter leluhur kita. Melalui proses jamasan, kita bisa napak tilas tentang kehidupan para leluhur kita. Oleh karena itu, proses jamasan harus dilakukan dengan benar,” ungkapnya.
Tejo mengungkapkan prosesi jamasan yang umumnya dilaksanakan pada bulan Suro memiliki berbagai persiapan ritual hingga perlengkapan simbolis yang khusus. Seluruh rangkaiannya merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap warisan budaya dari leluhur.
Baca juga : Komunitas Jogja Mendongeng, Merawat Budaya Tutur di Tengah Era Digital
Penulis : Khoirul Fitrian Baroroh







Comments