STARJOGJA.COM, JOGJA—Tidak sekadar pengantar tidur, Jogja Mendongeng hadirkan dongeng sebagai media edukasi, penanaman nilai, hingga healing bagi anak-anak. Kak Diaz, salah satu pendongeng yang aktif di Komunitas Jogja Mendongeng membagikan pengalamannya dalam menjaga eksistensi budaya mendongeng melalui Jogja Mendongeng.
“Waktu itu mulai bergerak lewat podcast dan YouTube di tahun 2019, turun langsung di tahun 2022 dengan menyelenggarakan pagelaran mendongeng. Semangat kami untuk demi melestarikan budaya tutur dan menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin belajar mendongeng,” ujar Diaz dalam dalam Star Playground – Bukan Sekedar Cerita Dongeng Sebagai Media Edukasi dan Healing (13/06/2026).
Diaz mengungkapkan hingga saat ini Jogja Mendongeng semakin aktif dalam menyelenggarakan pertunjukkan. Menurutnya, Jogja Mendongeng memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mendongeng karena prinsip Jogja Mendongeng adalah semua bisa mendongeng.
“Pada saat itu kami aktif mendatangi komunitas atau sekolah untuk menjaga semangat literasi dan imajinasi anak-anak,” tutur Diaz.
Menurut Diaz, mendongeng bukan hanya cerita sebelum tidur melainkan salah satu media penyampaian edukasi dan penanaman nilai yang tepat untuk anak-anak dari kalangan SD hingga SMP.
“Kami mendongeng untuk anak-anak tidak hanya khusus DIY, bisa ke daerah lain seperti juga seperti kemarin di Jabodetabek,” ungkap Diaz.
Diaz mengungkapkan tantangan utama yang dihadapi oleh pendongeng adalah mengatur strategi untuk menyesuaikan penyampaian cerita dengan kondisi penonton.
“Pernah ada anak yang sudah mengetahui alur akhir cerita yang akan saya dongengkan, jadi saya harus cepat untuk mengubah arah dengan mengambil sudut pandang atau perspektif lain,” Cetus Diaz.
Jogja Mendongeng selalu mempelajari konteks budaya, usia dan karakteristik di setiap daerah sebelum menggelar pertunjukan. Menurut Diaz, penyesuaian dilakukan melalui penggunaan bahasa yang sesuai dengan karakteristik penonton di setiap daerah.
“Sebelumnya saya harus melihat konteks budayanya seperti apa, lalu saya akan pelajari. Kalau memang di sana menggunakan bahasa lokal misalnya bahasa Jawa, saya akan menyelipkan itu agar sesuai dengan humor mereka. Tapi kalau di luar bahasa Jawa, saya akan menggunakan bahasa Indonesia dan menarik gimik-gimik yang terkait misalnya dengan tren sekarang,” jelas Diaz.
Diaz menilai antusiasme anak-anak terhadap kegiatan mendongeng masih tinggi meskipun hidup di tengah perkembangan era digital. Ia mengungkapkan Jogja Mendongeng memiliki variasi cerita yang beragam agar anak-anak tetap tertarik dan mendapatkan pengalaman bercerita yang berbeda.
“Menurut saya, mendongeng itu tidak bisa ditarget dan tidak ada batasan,” ucap Diaz.
Diaz mengungkapkan tidak mudah untuk menjadi pendongeng karena harus memerhatikan ekspresi, suara, kejelasan artikulasi, durasi dan properti.
“Mengubah suara bisa menghidupkan suasana dan jiwa di dalam dongeng,” tambahnya.
Diaz menjelaskan perkembangan kegiatan mendongeng di Yogyakarta masih sangat baik. Berbagai komunitas masih aktif berkegiatan dengan dukungan dari berbagai pihak, sehingga Yogyakarta menjadi salah satu tempat yang tepat untuk mempelajari seni mendongeng.
Baca juga : Rumah Sastra Ahmad Tohari Diharapkan Jadi Pusat Literasi dan Kantong Budaya
Penulis : Khoirul Fitrian Baroroh







Comments