Lifestyle

Rumah Sastra Ahmad Tohari Diharapkan Jadi Pusat Literasi dan Kantong Budaya

0
Ahmad Tohari
Ahmad Tohari (bisnis)
STARJOGJA.COM, Info — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memiliki peran strategis sebagai pusat literasi sekaligus ruang pelestarian budaya yang dapat menginspirasi masyarakat lintas generasi.
Menurut Fadli, rumah baca yang dikelola sastrawan Ahmad Tohari tidak hanya menjaga warisan intelektual, tetapi juga menjadi ruang belajar yang aktif dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum melalui berbagai kegiatan literasi.
“Setiap hari, perpustakaan dan rumah baca tersebut dikunjungi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memanfaatkan koleksi dan berbagai aktivitas literasi yang diselenggarakan,” ujar Fadli Zon dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Peresmian Rumah Sastra Ahmad Tohari menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan dalam mendukung inisiatif pemajuan kebudayaan berbasis komunitas.
Fadli berharap rumah baca tersebut terus berkembang sebagai pusat aktivitas budaya yang hidup dan berkelanjutan.
“Rumah baca perpustakaan Ahmad Tohari ini bisa menjadi perpustakaan yang hidup, bisa menjadi kantong budaya dan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang terus berkesinambungan,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah tetap berkomitmen menjalankan program pemajuan kebudayaan, termasuk revitalisasi aset budaya di berbagai daerah meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Menurut Fadli, saat ini Kementerian Kebudayaan menargetkan revitalisasi sekitar 159 aset budaya, baik berupa situs cagar budaya maupun kantong-kantong budaya yang tumbuh dari inisiatif masyarakat.
“Bapak Ahmad Tohari ini menginisiasi satu kantong budaya yang menggerakkan generasi muda untuk membaca, semacam pusat literasi,” ujarnya.
Ahmad Tohari menyambut baik revitalisasi yang dilakukan pemerintah. Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu mengaku senang karena perpustakaan yang dikelolanya semakin ramai dikunjungi dan menjadi ruang diskusi lintas generasi.
Karya-karya Ahmad Tohari, khususnya novel Ronggeng Dukuh Paruk, dikenal luas karena mengangkat kehidupan masyarakat Banyumas, nilai-nilai kemanusiaan, tradisi lokal, serta kekhasan bahasa Banyumasan. Novel tersebut juga diadaptasi ke layar lebar melalui film Sang Penari, yang turut memperkenalkan budaya Banyumas kepada masyarakat luas.
Fadli menilai semangat yang dibangun Ahmad Tohari sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional. Menurutnya, sastra memiliki peran penting dalam merekam sejarah, membangun karakter bangsa, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Untuk memperkuat ekosistem sastra nasional, Kementerian Kebudayaan telah menyiapkan sejumlah program strategis, di antaranya Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, penerjemahan karya sastra Indonesia, penguatan komunitas dan festival sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta pengembangan sastra berbasis intellectual property (IP).
Sumber : Antara
Bayu

Arman Tsarukyan Jagokan Islam Makhachev Kalahkan Ian Garry di UFC 330  

Previous article

BPJS Ketenagakerjaan Ingatkan Pentingnya Perlindungan Sosial

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle