JogjaKULifestyle

Bertahannya Tradisi Daur Hidup Masyarakat Jawa di Yogyakarta  

0
Upacara daur hidup videografi pernikahan menikah dengan sepupu
Menikah unik di Yogyakarta (fortais)
STARJOGJA.COM, Info — Upacara daur hidup masyarakat Jawa masih terus dilestarikan di Kota Yogyakarta meski dihadapkan pada tantangan perubahan zaman, gaya hidup modern, hingga berkurangnya minat generasi muda. Berbagai prosesi adat yang mengiringi setiap fase kehidupan dinilai tidak hanya sebagai ritual, tetapi juga mengandung nilai pendidikan, doa, pengharapan, serta pembentukan karakter.
Seksi Seni Budaya Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Kota Yogyakarta, Nur Dwi Artiandari, mengatakan masyarakat Jawa memaknai setiap tahapan kehidupan melalui upacara tradisi, mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, pernikahan, hingga kematian.
“Masyarakat Jawa tradisional itu menengarai proses kehidupannya dengan upacara tradisi. Di dalamnya tidak hanya ritual prosesi saja, tetapi juga memuat pendidikan, doa, pengharapan, dan peringatan,” ujar Nur Dwi Artiandari kepada Star FM.
Ia menjelaskan setiap prosesi memiliki makna yang berbeda sesuai fase kehidupan seseorang. Misalnya, upacara khitanan maupun pernikahan memiliki doa dan harapan yang disesuaikan dengan tahap kehidupan yang sedang dijalani.
Menurut Nur, pelaksanaan tradisi di Kota Yogyakarta masih tergolong kuat dibandingkan daerah lain karena adanya dorongan dari para sesepuh serta tuntutan sosial yang membuat masyarakat tetap menjalankan ritual adat.
Ketua Rintisan Kalurahan Budaya Suryodiningratan, Haryo Damar Teguh Wiyoso, mengatakan berbagai upacara daur hidup masih rutin dilakukan masyarakat, mulai dari slametan kehamilan, mitoni, brokohan, puputan, selapanan, tedhak siten, hingga rangkaian adat pernikahan.
Ia menilai tradisi tersebut menjadi sarana pembelajaran mengenai tanggung jawab hidup sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
“Upacara-upacara adat itu penuh dengan makna, penuh dengan simbol bagaimana kita mengelola kehidupan dari janin, anak-anak, sampai kita meninggal. Semua ada di situ,” katanya.
Namun, Haryo mengakui pelestarian budaya menghadapi berbagai tantangan. Selain perubahan pola hidup masyarakat, tradisi seperti bancaan dan dahar kembul kini mulai jarang dilakukan karena perubahan selera, faktor kebersihan, hingga kesibukan masyarakat.
Menurutnya, semakin banyaknya pendatang dan berkurangnya masyarakat asli yang memahami adat juga menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan tradisi kepada generasi muda.
Meski demikian, Haryo melihat media sosial justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana mengenalkan budaya kepada anak muda. Dokumentasi sederhana seperti berfoto di lokasi prosesi adat dinilai dapat memancing rasa ingin tahu mereka terhadap makna tradisi.
Sementara itu, Lurah Suryodiningratan, Subiyono, mengatakan hampir seluruh rangkaian tradisi daur hidup masyarakat Jawa masih dijalankan di wilayahnya, mulai dari slametan kehamilan, tingkeban, brokohan, hingga tradisi peringatan setelah seseorang meninggal dunia.
“Untuk tradisi daur hidup manusia di Kelurahan Suryodiningratan hampir semua masih ada, Pak. Jadi baik dari mulai hamil sampai dengan kematian, artinya apa? Bahwa prosesi siklus untuk budaya untuk nguri-uri budaya itu umpamanya dari lahir, kalau dari kelahiran itu umpamanya 3 bulanan, itu di sini ada namanya slametan, nggih slametan 3 bulanan untuk menandakan bahwa mereka sudah berisi, nggih. Kita bacakan doa. Kemudian 7 bulanan, namanya tingkeban kalau istilahnya Jawanya. Itu juga masih berlaku ataupun masih ada,” katanya.
Pihaknya terus melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan budaya agar mereka memahami sekaligus meneruskan warisan budaya tersebut.
Selain prosesi adat, pelestarian budaya juga tercermin melalui tata rias dan busana dalam pernikahan adat Jawa. Menurut Nur Dwi Artiandari, setiap unsur riasan, termasuk paes gaya Yogyakarta, memiliki filosofi yang menggambarkan tanggung jawab serta kesiapan perempuan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
Pelaku budaya berharap tradisi daur hidup masyarakat Jawa tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus media pendidikan nilai-nilai kehidupan bagi generasi mendatang.
Upaya pelestarian juga mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan melalui berbagai program yang melibatkan komunitas budaya. Menurut Yetti Martanti, S.Sos., M.M. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, meski prosesi adat kini tidak selalu dilaksanakan secara besar-besaran, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya masih terus dijaga oleh masyarakat.
“Proses-proses upacara itu justru mengandung nilai-nilai budaya yang sangat luhur. Sebenarnya masyarakat kita masih melaksanakan itu, hanya memang tidak dilakukan secara besar, tetapi tradisi-tradisi itu masih dijalankan,” ujarnya.
Dinas Kebudayaan juga mendorong berbagai komunitas, seperti sanggar tata rias pengantin, HARPI Melati, hingga komunitas yang fokus pada budaya daur hidup untuk terus melestarikan tradisi. Kolaborasi juga dilakukan dengan wedding organizer dan event organizer agar penyelenggaraan pernikahan tetap mengakomodasi prosesi adat Jawa.
Selain itu, dokumentasi dan promosi melalui media sosial dinilai menjadi langkah penting untuk mengenalkan tradisi kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda.
Pelestarian juga didukung oleh para pelaku budaya yang masih memahami tata cara berbagai prosesi adat, mulai dari mitoni, brokohan, sunatan, tedhak siten, pernikahan adat, hingga tradisi yang mengiringi prosesi kematian.
Bayu

Ketoprak Mataram di Persimpangan: Bertahan Lewat Warisan Maestro dan Inovasi

Previous article

Pelayanan Kesehatan Gratis di Papua Perluas Akses Layanan dan Perkuat Kualitas SDM Masyarakat

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JogjaKU