Gisella mengatakan masyarakat sering kali tidak mengetahui kondisi sebenarnya yang dialami korban. Karena itu, setiap komentar yang disampaikan di media sosial sebaiknya dipikirkan matang-matang agar tidak memperburuk keadaan korban.
“Tindakan baik, seperti berkomentar atau apa pun, minimal tidak memperparah kondisi korban. Pikirkan ulang ketika ingin mengetikkan sesuatu, baca kembali sebelum kita komen, mudah-mudahan akan mengurangi bagaimana kita bisa victim blaming terutama di media sosial,” ujarnya.
Menurut lulusan Universitas Indonesia tersebut, langkah sederhana yang bisa dilakukan sebelum memberikan komentar adalah membaca kembali kalimat yang telah ditulis, lalu membayangkan diri berada di posisi korban. Dengan begitu, seseorang dapat menilai apakah komentar tersebut benar-benar membantu atau justru menyakiti.
Selain itu, Gisella menyarankan masyarakat untuk mengevaluasi perasaan pribadi saat membaca berita atau unggahan mengenai kasus kekerasan. Kesadaran terhadap pengalaman dan emosi diri dinilai dapat membantu seseorang memberikan respons yang lebih bijak dan penuh empati.
“Apa yang saya merasa terkoneksi, misalnya dalam level ‘oh saya pernah tahu teman saya punya kondisi demikian, atau saya sendiri pernah berada dalam kondisi yang mirip’, sehingga kita lebih sadar diri ketika melakukan sesuatu termasuk berkomentar bisa lebih berempati, memberikan sesuatu yang tidak menambah kesengsaraannya si korban,” jelasnya.
Gisella menilai praktik victim blaming masih sering terjadi, bahkan pada kasus-kasus ekstrem ketika korban telah mengalami penderitaan secara fisik maupun psikologis.
Menurutnya, salah satu penyebab utama munculnya sikap tersebut adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dinamika hubungan yang mengandung kekerasan. Banyak orang beranggapan korban seharusnya bisa dengan mudah meninggalkan pelaku, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ia menjelaskan, dalam relasi yang penuh kekerasan, korban kerap mengalami manipulasi psikologis, dominasi, hingga ketergantungan yang dibangun oleh pelaku, baik karena faktor ekonomi, emosional, maupun bentuk kontrol lainnya.







Comments