Lifestyle

Menabung Air Saat Hujan, Cara Hadapi Kemarau Panjang

0
menabung air hujan
menabung air hujan (ugm)
STARJOGJA.COM, Info –  Pakar Hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., mengatakan penanganan kekeringan seharusnya dilakukan secara preventif, terutama ketika musim hujan. Menurutnya, kekeringan yang terjadi saat musim kemarau salah satunya merupakan dampak dari kurangnya persiapan dalam mengelola atau menabung air hujan.
“Preventif pada saat musim hujan. Kekeringan itu adalah dampak daripada kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Sehingga pada musim kering bingung,” ujar Agus dalam workshop Sekolah Wartawan bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan” di Ruang Fortakgama, Gedung Pusat UGM, Jumat (14/8/2026).
Menurut Agus, dampak El Nino sebenarnya terjadi secara berkala, tetapi perubahan iklim membuat risiko kekeringan maupun banjir semakin terasa di berbagai daerah. Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap air hujan, bukan hanya sebagai sesuatu yang harus segera dialirkan keluar.
Agus mendorong masyarakat untuk mulai melakukan pemanenan air hujan sebagai salah satu langkah menghadapi kekeringan. Menurutnya, air hujan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air sekaligus membantu menjaga cadangan air tanah.
“Semua orang Indonesia itu memahami tentang bagaimana manajemen hujan, bagaimana hujan kualitasnya sangat baik. Kualitasnya itu melebihi kualitas air sungai, melebihi kualitas air permukaan mana pun,” katanya.
Ia menjelaskan, air hujan yang ditampung dan diolah dengan baik dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Bahkan, menurut Agus, pemanfaatan air hujan bukan sekadar praktik tradisional, tetapi telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Australia.
Air Hujan Bisa Jadi Cadangan Air Tanah
Agus mengatakan salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan masyarakat perkotaan adalah memanfaatkan sumur yang sudah tidak digunakan sebagai tempat memasukkan air hujan. Air yang masuk terlebih dahulu disaring sehingga dapat membantu mengisi kembali cadangan air tanah.
“Kalau itu menjadi gerakan perkotaan untuk memanen air yang masuk ke sumur, itu sudah bisa menyelesaikan masalah penurunan muka air tanah. Di samping juga mengurangi banjirnya,” jelasnya.
Selain rumah tangga, sektor industri, perhotelan, dan perkantoran juga dinilai perlu ikut menerapkan pemanenan air hujan. Penggunaan air tanah dalam jumlah besar oleh sektor tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan muka air tanah.
Karena itu, air hujan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan cadangan air tanah. Agus juga mencontohkan pemanfaatan air hujan untuk kegiatan pertanian dan perikanan di Bantul.
Menurutnya, air hujan tidak hanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memelihara ikan. Sejumlah masyarakat, kata Agus, telah memanfaatkan air hujan untuk memelihara ikan mujair dan lele.
Embung Desa hingga Sumur Resapan
Dalam sektor pertanian, Agus juga mendorong kembali pengembangan kolam tampung air hujan. Menurutnya, keberadaan kolam pertanian yang berfungsi menyimpan air saat musim hujan perlu dikembangkan kembali.
Ia menilai konsep drainase yang hanya mengupayakan air hujan secepat mungkin keluar dari suatu wilayah perlu diubah. Air hujan sebaiknya ditahan selama memungkinkan agar dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui program embung desa. Embung tidak harus berukuran besar, tetapi dapat berupa kolam-kolam kecil yang tersebar di wilayah desa untuk menampung air hujan.
“Program yang harus dilakukan adalah embung desa, mengupayakan supaya air hujan itu tidak keluar secepat-cepatnya. Kalau banjir memang harus keluar, tapi kalau tidak, harus mengisi desa ini. Nanti kekeringan tidak terjadi,” jelas Agus.
Selain embung, teknologi injeksi air hujan ke dalam tanah juga dapat diterapkan. Air hujan dari talang dapat dialirkan melalui pipa atau lubang bor untuk membantu mengisi kembali cadangan air tanah.
Di tingkat rumah tangga, masyarakat juga dapat menyediakan bak penampungan air hujan. Air yang terkumpul dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, sementara kelebihan air dapat dimasukkan kembali ke dalam tanah melalui sistem resapan atau injeksi setelah melalui proses penyaringan.
Cari Sumber Air Saat Kemarau
Ketika musim kemarau tiba, Agus mengingatkan masyarakat tidak hanya menunggu bantuan pemerintah. Masyarakat dapat secara aktif mencari sumber air yang masih tersedia di lingkungan sekitar.
Sumber air tersebut antara lain aliran sungai, mata air, sungai bawah tanah, kawasan sekitar danau dan rawa, saluran irigasi, hingga sumur-sumur tua yang sudah tidak digunakan.
Masyarakat juga dapat membuat sumuran di sekitar aliran sungai untuk memperoleh air yang masih berada di bawah permukaan tanah. Sementara mata air yang ditemukan perlu ditandai dan dirawat agar tetap dapat dimanfaatkan.
Agus menegaskan, menghadapi kekeringan merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat perlu melakukan persiapan sejak musim hujan, mulai dari memperbaiki sarana pemanenan air hujan, merawat sumur dan kolam, hingga menjaga sumber air yang tersedia.
“Orang harus berpikir hujan sama kemarau itu jadi satu, kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah pada musim kemarau, pada musim hujannya harus banyak menampung air,” pungkas Agus.
Sumber : Humas UGM
Bayu

Aransemen Baru Hari Merdeka Garapan Erwin Gutawa Tembus Ratusan Tayangan 

Previous article

Mahasiswa KKN UGM Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun dan Lilin Aromaterapi

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle