CulinaryNews

Mencicipi Hidangan Istimewa Keraton Yogyakarta melalui Jadah Manten Bu Yanti

0
jadah manten

STARJOGJA.COM, JOGJA. Di tengah gencaran makanan kekinian dari mancanegara, masih ada yang mempertahankan rasa autentik makanan tradisional. Tepatnya di Pugeran, Yogyakarta, terdapat sosok yang setia membuat jadah manten yang hampir punah. Jadah Manten Bu Yanti nama brandnya.

Jadah manten merupakan makanan tradisional yang terbuat dari ketan berisi daging ayam yang dibungkus dengan telur dadar dan diijepit dengan dua bilah bambu. Dua bilah bambu tersebut yang menjadi simbol dari sepasang pengantin. Setelahnya, jadah manten dibakar di atas arang sembari diguyur dengan santan.

Generasi keempat dari produsen Jadah Manten Bu Yanti, Yati, menyebutkan bahwa bahan dasar ketan di jadah manten memiliki filosofi untuk mempererat persaudaraan. Ketan yang sudah direndam selama satu jam, direbus hingga setengah matang dan dicampur dengan santan serta gula dan garam.

“Dulu isinya menggunakan daging sapi, tapi karena perkembangan zaman daging sapi semakin mahal. Kami kemudian beralih ke ayam yang terjangkau,” jelas Yati dalam Fun With Business di Star FM Yogyakarta.

Yati menjelaskan, di tahun 1800-an, jadah manten sudah menjadi hidangan istimewa yang disuguhkan untuk tamu di Keraton Yogyakarta, dan kini biasa dipesan sebagai seserahan atau untuk acara tertentu, seperti arisan, pengajian, bahkan dijadikan sebagai oleh-oleh.

Yati juga menyebutkan bahwa jadah manten pernah menjadi bagian dari warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2021.

Dibanderol dengan harga Rp5000, Yati mengungkapkan bahwa harga tersebut dipertimbangkan dari prosesnya yang panjang. Ketan yang digunakan pun tidak bisa sembarangan karena tidak semua ketan dapat dibuat menjadi jadah manten.

“Membuat santan dengan memarut kelapa, tidak bisa pakai mesin. Kalau pakai mesin kualitas santannya jadi kurang bagus, tidak bisa kental. Masih berinovasi untuk mencoba apa harus diblender atau gimana, karena saya juga lelah kalau disuruh memarut,” ujarnya.

Yati menyebutkan, yang biasa menjadi konsumen jadah manten ialah orang-orang yang berada di usia antara 30 sampai 60 tahun. Tidak hanya warga Yogyakarta yang gemar dengan jadah manten, banyak warga luar Yogyakarta pun menggemarinya.

Jadah manten hanya bisa bertahan selama 10 jam. Oleh karena itu, pengiriman jadah manten ke luar kota masih menjadi tantangan tersendiri.

“Kalau dikirim ke luar kota, untuk kemasan vakum kami masih uji coba karena belum berhasil, masih bocor tertusuk lidi. Kalau dilepas jadi bisa divakum, tetapi tampilannya kurang menarik karena tergencet,” jelas Yati.

Yati berharap agar generasi sekarang mengenal jadah manten sebagai makanan yang enak dan mau mencoba untuk membuatnya. Jadi, tidak hanya yang sudah sepuh saja yang mengenal jadah manten.

Produsen Jadah Manten Bu Yanti itu juga mengungkap kekhawatirannya mengenai inovasi jadah manten yang santannya dibuat dengan kelapa yang diparut dengan mesin dan dibakar menggunakan gas. Menurutnya, inovasi tersebut malah membuat rasa jadah manten menjadi berbeda.

Tempat produksi Jadah Manten Bu Yanti berada di Kampung Pugeran Timur No.12. tempat tersebut dapat dicari di Google Maps. Selain itu, Jadah Manten Bu Yanti hanya dapat dipesan melalui sistem pre-order dengan menghubungi nomor 0895 2931 6500.

Baca juga : Ini Dia Makanan Khas Kraton Yogyakarta

Penulis : Dwina Kayla

Selengkapnya :

Bayu

Nol Kematian Dengue 2030, Strategi Terpadu dari Klinik hingga Pembiayaan

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Culinary