STARJOGJA.COM,KULONPROGO. Kemarau panjang yang dirasakan di banyak wilayah di Indonesia telah membawa berbagai kesulitan. Sumber air mulai berkurang, tanah mengering, tanaman merindukan air. Selain itu para juga petani menghadapi kesulitan. Kebutuhan masyarakat terhadap air bersih semakin meningkat.
Kepala Kankemenag Kulon Progo, H.M. Wahib Jamil, S.Ag. M.Pd. menyampaikan hal itu saat menyampaikan Khutbah Salat Istisqa yang berlangsung di Lapangan Pengasih pada Kamis (22/10/2026) pagi.
“Secara ilmu alam, kemarau panjang dapat terjadi karena berkurangnya curah hujan, pergeseran pola angin dan musim, pengaruh fenomena iklim seperti El Nino, serta perubahan iklim jangka panjang. Kondisi tersebut dapat diperparah oleh kerusakan hutan, berkurangnya daerah resapan air, dan penggunaan air yang tidak bijaksana,” ujarnya.
Semua itu merupakan bagian dari sebab-sebab alamiah yang perlu dipahami dan diikhtiarkan solusinya. Adapun dalam pandangan iman, keadaan ini juga hendaknya menjadi momentum untuk bermuhasabah, memperbaiki hubungan kita dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.
Surat Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa perilaku manusia dapat menimbulkan kerusakan. Bahwa berbagai peristiwa semestinya mendorong manusia untuk kembali kepada Allah.
“Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa setiap kemarau merupakan hukuman atas dosa orang atau kelompok tertentu. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri,” imbuh Kakan.
Oleh karena itu, menurut Wahib Jamil, ada tiga ikhtiar penting yang perlu dilakukan. Pertama, menyadari kesalahan, memperbanyak istighfar, dan bertaubat kepada Allah SWT. Sebelum meminta hujan dari langit, terlebih dahulu harus menundukkan hati, mengakui kelemahan, dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita.
“Mungkin selama ini kita kurang bersyukur atas nikmat air. Kita menggunakan air secara berlebihan, mengabaikan kebersihan lingkungan, merusak alam, atau melalaikan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia. Istighfar dan taubat merupakan jalan untuk kembali kepada Allah serta mengharapkan rahmat dan pertolongan-Nya,” terang Jamil.
Taubat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan penyesalan di hati, meninggalkan dosa, bertekad tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak orang lain apabila kita pernah menzalimi mereka.
Kedua, berazam memperbaiki perilaku, meningkatkan ketaatan, dan menjaga kelestarian alam.
“Mari kita mulai dari hal-hal sederhana: menggunakan air secukupnya, menjaga sumber mata air, menanam dan merawat pohon, melindungi hutan, menjaga daerah resapan air, tidak membuang sampah sembarangan, serta tidak merusak lingkungan. Kita juga harus meningkatkan ketaatan kepada Allah, memperbaiki hubungan antarsesama, membantu warga yang kesulitan air, dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai kita hanya meminta Allah menurunkan hujan, tetapi kita sendiri tidak mau menjaga bumi yang menjadi tempat turunnya rahmat-Nya,” lanjut Jamil.
Ketiga, bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT dengan doa dan harapan yang tidak pernah putus. “Setelah beristighfar dan bertekad memperbaiki diri, marilah kita bertawakal kepada Allah. Kita menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ilmu pengetahuan membantu kita memahami cuaca, teknologi membantu mengelola air, dan kerja bersama membantu mengatasi kekeringan. Namun, kita tetap menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT. Maka hari ini, marilah kita menengadahkan tangan dengan penuh kerendahan hati. Kita datang bukan karena merasa suci, melainkan karena menyadari banyaknya kekurangan. Kita memohon bukan karena merasa berhak, melainkan karena sangat membutuhkan kasih sayang Allah,” pungkasnya.







Comments