Lifestyle

Kerusuhan Prancis Jadi Peringatan bagi Indonesia soal Kenaikan Biaya Hidup

0
kerusuhan Prancis protes pelajar Prancis protes siswa SMA Prancis
protes pelajar Prancis (antara)
STARJOGJA.COM, Info — Gelombang demonstrasi yang berujung kerusuhan di Prancis menjadi peringatan bagi Indonesia mengenai dampak tekanan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Kenaikan biaya hidup, persoalan layanan publik, dan kekhawatiran terhadap pemangkasan anggaran menjadi sejumlah faktor yang memicu meluasnya aksi massa di negara tersebut.
Pada pertengahan September 2026, aksi protes bermula dari kalangan pelajar yang mempersoalkan kondisi sekolah, mulai dari kekurangan guru hingga kerusakan bangunan. Mereka menuntut perbaikan fasilitas pendidikan, reformasi sistem pendidikan, serta peningkatan anggaran.
Aksi tersebut meluas pada Oktober 2026 setelah kalangan buruh dan kelompok masyarakat sipil ikut menyuarakan keberatan terhadap rancangan anggaran pemerintah Prancis untuk 2027. Rencana penghematan sebesar 54 miliar euro atau sekitar Rp915 triliun menjadi salah satu pemicu ketidakpuasan masyarakat.
Pemerintah Prancis memperkirakan defisit fiskal dapat mencapai 6,5% dari produk domestik bruto (PDB) apabila langkah penghematan tidak dilakukan. Namun, kelompok masyarakat sipil khawatir pemangkasan belanja justru memperburuk kualitas layanan publik, termasuk tunjangan sosial dan bantuan pemerintah.
Situasi tersebut diperberat oleh meningkatnya biaya hidup, terutama akibat kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik Timur Tengah. Tekanan ekonomi kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong semakin banyak warga turun ke jalan.
Menurut laporan yang dikutip dari Le Monde pada Selasa (20/10/2026), inflasi kumulatif Prancis sejak 2017 mencapai 23,4%. Sementara itu, pertumbuhan median penghasilan masyarakat pada periode yang sama hanya sebesar 22,8%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan belum mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa. Daya beli masyarakat pun tertekan, sedangkan kalangan buruh menuntut upah yang lebih layak untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Besarnya aksi demonstrasi juga menjadi sorotan media internasional. BBC menyebut peristiwa tersebut sebagai “salah satu kerusuhan paling buruk dalam sejarah Prancis modern.” Lebih dari setengah juta orang dilaporkan mengikuti demonstrasi di sejumlah kota besar Prancis.
Aksi yang pada awalnya berlangsung damai kemudian diwarnai bentrokan dan perusakan. Laporan yang dikutip Bisnis.com menyebut polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa, sementara sejumlah toko dijarah, bangunan dirusak, dan ribuan demonstran ditahan.
Pelajaran bagi Indonesia
Tekanan biaya hidup di Prancis menjadi bahan refleksi bagi Indonesia, terutama terkait kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kenaikan harga dan pertumbuhan pendapatan yang belum seimbang.
Persoalan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan angka inflasi, tetapi juga menyangkut kualitas pekerjaan, kecukupan penghasilan, akses terhadap layanan publik, serta kemampuan pemerintah menjaga daya beli masyarakat.
Karena itu, pengelolaan anggaran perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kebutuhan dasar warga. Perbaikan layanan publik, perlindungan sosial yang tepat sasaran, serta penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.
Peristiwa di Prancis tidak serta-merta berarti Indonesia akan mengalami situasi serupa. Namun, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya merespons persoalan ekonomi dan aspirasi masyarakat secara tepat agar tekanan sosial tidak semakin meluas.
  
Sumber : Bisnis
Bayu

Psikolog Ungkap Dampak Anak Ditinggal Sendirian Tanpa Pengawasan

Previous article

Khutbah Salat Istisqa, Kepala Kemenag Kulon Progo Ajak Jamaah Muhasabah

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle