News

Merajut Kesetaraan dan Kesempatan Digital di Tanah Mataram

0
pemerataan digital
Gunungkidul (foto: Bayu)
STARJOGJA.COM, Info — Pemerataan akses digital di Daerah Istimewa Yogyakarta bukan sekadar persoalan membangun jaringan internet, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkembang dan berdaya. Tantangan geografis membuat pemerintah daerah dan komunitas berupaya agar wilayah pelosok dan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dapat memanfaatkan teknologi ini agar berdaya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gunungkidul, Setiyo Hartato, mengatakan kondisi geografis menjadi tantangan utama dalam memperluas jaringan telekomunikasi di wilayahnya. Pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS) membutuhkan biaya besar dan menghadapi kendala alam, mulai dari kondisi tanah berbatu hingga jarak antarpadukuhan yang dapat mencapai 15–40 kilometer.
“Tujuh ratusan ribu sekian populasinya. Artinya, mereka pasti berpikir tentang BEP break event point-nya itu mau berapa tahun. Sehingga, strategi yang kami bangun adalah dengan memberikan kepastian bahwa Kabupaten Gunungkidul ini pariwisatanya bagus. Jadi, sekalian melayani padukuhan, sekalian melayani zona-zona wisata. Jadi, kami sampaikan data itu kita buka ,” katanya kepada Starjogja.com Kamis (8/10/2026).
Pada akhir 2023, Gunungkidul masih memiliki sekitar 177 titik blank spot atau wilayah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi secara memadai. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Diskominfo Gunungkidul mengembangkan program Jarik Agung, singkatan dari Jaringan Infrastruktur Komunikasi Agawe Ungguling Gunungkidul.
pemerataan digital

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Gunungkidul Setiyo Hartato (bayu)

Setiyo mengatakan jika program ini dirancang untuk mempercepat pembangunan infrastruktur komunikasi secara merata hingga 144 kalurahan atau desa. Harapannya dapat mendukung  pelayanan publik, pengembangan pariwisata, dan pemulihan ekonomi masyarakat.
Setiyo menjelaskan, perluasan jaringan dilakukan melalui empat skenario, yakni teknologi wireless, fiber optik, swakelola, serta kerja sama dengan pihak swasta untuk pembangunan BTS. Pemerintah daerah juga membuka peluang bagi investor untuk ikut memperluas jaringan telekomunikasi di Gunungkidul.
“Kami buka pintu seluas luasnya untuk membanugn jaringan di gunungkidul dari hasil pengembangan itu negosiasi interaksi terjadi pengurangan titik blankspot , daerahnya masih ada sekitar 70 an titik blankspot // yang ini tbetul betul blankspot dan mungkin sekarang sudah berkurang lagi karena kita perluas lagi sampai tingkat padukuhan,” katanya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Dari sekitar 177 titik blank spot pada akhir 2023, jumlahnya disebut telah berkurang menjadi sekitar 70 titik. Pemerintah daerah berharap perluasan jaringan hingga tingkat padukuhan dapat terus mengurangi wilayah yang belum terlayani.
 Desa Krajan, Sidoluhur, Godean, Kabupaten Sleman menjadi basis dari para disabilitas untuk terus berkarya dan berdaya. Di kawasan inilah Difa Bike beroperasi sebagai layanan transportasi dan ojek daring yang secara khusus melibatkan penyandang disabilitas.
Usaha yang didirikan Triyono, seorang penyandang disabilitas, tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membuka akses mobilitas sekaligus kesempatan ekonomi. Melalui Difa Bike inilah, para pengemudi difabel dapat bekerja, melayani pelanggan, dan memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga.
Sebelum memiliki kesempatan bekerja, sebagian penyandang disabilitas menghadapi keterbatasan akses dan stigma sosial. Kini, mereka dapat mengambil peran lebih besar di lingkungan masing-masing, termasuk menjadi tulang punggung keluarga.
“Meskipun tahunan, akhirnya mereka punya kepercayaan diri yang lebih-lebih. Karena ada kesempatan dan lain sebagainya. Saya tidak ada lagi, sudah tidak ada isu teman-teman dipersekusi di tingkat komunitas desanya. Malah sering dilipatkan 17 Agustus saja,  jadi panitia bagian drop makanan, drop-in-drop itu. Jadi seksi ini, seksi itu,” katanya.
Triyono founder and Owner Difa Bike

Triyono founder and Owner Difa Bike (bayu)

Triyono menilai kesempatan yang setara menjadi faktor penting agar penyandang disabilitas dapat mandiri. Ia menyayangkan anggapan bahwa mereka hanya menjadi beban keluarga, padahal dengan dukungan yang tepat, mereka mampu bekerja dan berkontribusi bagi masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital turut membantu mengatasi hambatan mobilitas. Aplikasi peta digital dan internet memungkinkan pengguna mempelajari rute serta kondisi tujuan sebelum bepergian. Media sosial juga menjadi sarana bagi para pengemudi untuk membangun komunikasi dan memperluas jangkauan layanan.
“Sangat terpenuhi. Justru dengan adanya ketanggihan digital saat ini, aksesibilitas digital itu, itu teman hidupnya. Dan bener-bener dengan adanya itu, mereka tidak ada lagi problematik tentang mobilitas sebenarnya. Mereka kan bisa mempelajari sesuatu itu di digital. Saya mau ke tempat nyala sampean misalkan, dia bisa baca dulu di map.Dia bisa mempelajari dulu di map. Oh seperti ini, jadi dia bisa bercerita. Ketika nanti order ke kita pun kan dia bisa bercerita.Nanti rumahnya ada post couplingnya masih di depannya. Ternyata mempelajari dulu dia di internet. Kemudian hampir semuanya teman-teman ini juga punya media sosial yang aktif.”
Kisah Difa Bike memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak berhenti pada ketersediaan jaringan. Teknologi juga perlu dirancang dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok yang selama ini menghadapi hambatan akses dan kesempatan.
Sebagai daerah tujuan wisata, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kebutuhan konektivitas yang penting bagi warga maupun wisatawan. Pemerintah daerah terus mendorong pemerataan akses internet agar manfaatnya dapat mendukung kegiatan ekonomi, pelayanan, dan pengembangan destinasi wisata.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika DIY, Ditya Nanaryo Aji, mengatakan kawasan pantai selatan menjadi salah satu fokus pembangunan ekosistem digital. Wilayah Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul menjadi bagian dari upaya memperluas akses tersebut.
“Pemda DIY kan saat ini sedang fokus untuk pembangunan literasi digital itu di Pantai Selatan. Jadi di Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul. Nah, itu merupakan salah satu bentuk ekosistem dari Jogja Smart Province. Tapi memang untuk beberapa waktu terakhir ini, fokusnya memang di Pancela. Sesuai dengan visi-visi Bapak Gubernur, yang memang fokus untuk pembangunan di daerah selatan,” katanya.
Pembangunan konektivitas di kawasan selatan diharapkan memperkuat ekosistem Jogja Smart Province. Selain mendukung kebutuhan masyarakat setempat, akses internet juga dapat membantu wisatawan memperoleh informasi dan menunjang aktivitas pariwisata.
Pemerataan digital juga membutuhkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan dan menilai informasi. Akses internet yang semakin luas perlu diimbangi kecakapan memilah berita, mengenali hoaks, serta memahami risiko misinformasi dan informasi palsu.
Anggota Dewan Pers sekaligus Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga, dan Infrastruktur Organisasi, Rosarita Niken Widiastuti, mengatakan literasi digital perlu menjangkau masyarakat luas, tidak hanya kalangan media. Pada tahun sebelumnya, pihaknya memberikan edukasi kepada masyarakat dan homeless media untuk meningkatkan pengetahuan dalam menggunakan media digital.
Ia menilai tingkat literasi media di Kota Yogyakarta relatif baik. Menurut catatan yang disampaikannya, laporan pengaduan yang masuk ke Dewan Pers dari wilayah tersebut tidak terlalu banyak, dengan dua laporan tercatat hingga saat itu.
“Jadi kalau yang ke masyarakat itu bersamaan antara homeless media dan masyarakat. Kalau masyarakat ini tujuannya adalah mereka bisa memilih dan memilah berita-berita, manakah berita yang benar, manakah yang hoax. Jangan sampai mudah mereka itu termakan oleh hoax, malinformasi, percaya pada berita-berita palsu, begitu,”katanya.
Literasi digital menjadi pelengkap penting bagi pembangunan infrastruktur. Dengan kemampuan mengevaluasi informasi, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan informasi secara bijak dan bertanggung jawab.
Di Gunungkidul, upaya pemerataan digital juga dilakukan melalui pengelolaan data dan pelibatan masyarakat. Selain Jarik Agung yang berfokus pada infrastruktur, Diskominfo Gunungkidul menjalankan program Dopadu atau Data Olahan Per Sektor Terpadu untuk menyatukan dan mengintegrasikan data.
Data yang terkumpul kemudian menjadi dasar pengembangan program Saruju, yakni Sarana Jurnalistik untuk Kemasyarakatan. Program ini mendorong pembentukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai bagian dari penguatan jurnalisme warga. Ia menyampaikan, jumlah KIM di Gunungkidul saat ini tercatat mencapai 1.429.
Tahap berikutnya adalah program Sadulur yang berfokus pada peningkatan indeks literasi digital masyarakat. Program ini menghubungkan pembangunan infrastruktur, pemanfaatan data, pengolahan informasi, dan keterlibatan warga dalam penyebaran informasi.
“Sadulur itu lebih mendetilkan bagaimana meningkatkan literasi digital di masyarakat, infrastruktur terbangun, data termanfaatkan dengan baik, data diolah menjadi informasi, ada pelibatan masyarakat dalam desiminasi, harapannya indeks literasi meningkat, sehingga masyarakat memilki kecakapan dalam memanfaatkan informasi ,”
Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa pemerataan digital membutuhkan pendekatan menyeluruh. Infrastruktur yang memadai, data yang dimanfaatkan, serta masyarakat yang cakap mengelola informasi menjadi unsur penting agar transformasi digital benar-benar menghadirkan kesetaraan dan kesempatan bagi warga di Tanah Mataram.
Bayu

PSIM Yogyakarta Akhiri Kerja Sama dengan Jean Paul Van Gastel

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News