STARJOGJA.COM,JOGJA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) sebesar 73,33 pada 2024. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional sekaligus menunjukkan perkembangan pembangunan pemuda di DIY dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, kepemimpinan, dan inklusivitas.
Untuk mempertahankan capaian tersebut, Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY terus memperkuat program pemberdayaan pemuda. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan dua program beasiswa dengan total kuota 360 penerima setiap tahun.
Kepala Seksi Pemuda BPO DIY, Rini Admiwati, menjelaskan bahwa program tersebut terdiri atas Beasiswa Berkelanjutan bagi Pemuda dengan kuota 150 orang per tahun dan Beasiswa Pendidikan Tinggi Istimewa dengan kuota 210 mahasiswa.
Menurut Rini, pembangunan pemuda tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Pemuda perlu ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki kesempatan untuk berkembang, berkontribusi, dan mengambil peran dalam masyarakat.
“Program beasiswa menjadi salah satu prioritas BPO DIY untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi pemuda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dan memiliki prestasi.Ada 2 jenis beasiswa yang kami salurkan,” jelasnya.
Beasiswa Berkelanjutan bagi Pemuda diberikan kepada 150 penerima setiap tahun melalui pembiayaan APBD. Program ini memberikan dukungan agar pemuda dapat mengelola dan melanjutkan pendidikan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Beasiswa Pendidikan Tinggi Istimewa dilaksanakan melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Widya Mataram, dan ATK Yogyakarta.
Bantuan diberikan kepada 210 mahasiswa untuk mendukung kebutuhan pendidikan, antara lain pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), pembelian buku, dan perlengkapan praktik.
Rini menjelaskan, calon penerima beasiswa harus berusia 18–24 tahun, terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi negeri maupun swasta di DIY, belum menikah, serta belum menerima beasiswa dari pihak lain.
“Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa semester 1 hingga semester 8. Prioritas diberikan kepada pemuda dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan dengan surat keterangan dari pemangku wilayah dan/atau memiliki prestasi.Tingginya minat masyarakat terlihat dari jumlah pendaftar yang biasanya mencapai dua kali lipat dari kuota penerima yang tersedia,” lanjutnya.
Selain pendidikan, BPO DIY mengembangkan program pelatihan kewirausahaan yang disesuaikan dengan potensi ekonomi dan karakteristik masing-masing wilayah.
Pelatihan tersebut mencakup berbagai bidang, seperti kuliner, perbengkelan, dan pertanian modern. “Pendekatan berbasis potensi lokal diharapkan dapat membantu pemuda mengembangkan usaha sekaligus menciptakan peluang kerja di daerah masing-masing,” terangnya.
Sebagai contoh, pelatihan kewirausahaan kuliner dan perbengkelan dilaksanakan di Kapanewon Pengasih, Kulon Progo. Sementara itu, pengembangan pertanian modern menjadi salah satu fokus di Sleman, sedangkan sektor pariwisata dan kuliner dikembangkan di Bantul.
Program lainnya meliputi lomba baris-berbaris serta pemantauan pelaksanaan Rencana Aksi Daerah (RAD) Kepemudaan. Pemantauan dilakukan setiap semester melalui koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kabupaten/kota, dan organisasi kepemudaan.
Atasi Kesenjangan Pendidikan di Gunungkidul dan Kulon Progo
Pemerataan kesempatan pendidikan dan pengembangan potensi pemuda menjadi perhatian BPO DIY, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses ekonomi dan geografis.
Rini menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menjadi perhatian dalam pemetaan program, masih terdapat disparitas pendidikan di sejumlah wilayah, termasuk Gunungkidul dan Kulon Progo.
Sebagian lulusan SMA di wilayah tersebut memilih langsung bekerja karena keterbatasan ekonomi keluarga maupun jarak geografis menuju pusat pendidikan dan perkotaan.
Untuk merespons kondisi tersebut, BPO DIY mengarahkan intervensi melalui program beasiswa dan pelatihan vokasi sesuai kebutuhan serta potensi daerah.
Upaya ini diharapkan dapat memperluas kesempatan pemuda untuk melanjutkan pendidikan sekaligus meningkatkan keterampilan agar mampu bersaing di dunia kerja.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pemberdayaan Pemuda
Dalam menjalankan program kepemudaan, BPO DIY menerapkan pendekatan kolaborasi lintas sektor atau pentahelix dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, organisasi kepemudaan, dan media.
Kolaborasi tersebut juga diperkuat melalui kerja sama dengan sejumlah instansi sesuai bidang penanganannya.
Bersama Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), BPO DIY mendukung upaya penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA).
Di bidang kesehatan, kerja sama dengan Dinas Kesehatan diarahkan pada peningkatan perhatian terhadap kesehatan mental pemuda.
Sementara itu, kolaborasi dengan Dinas UMKM dilakukan untuk memberikan pendampingan lanjutan kepada wirausaha muda pemula setelah mengikuti pelatihan dari BPO.
Adapun bersama Dinas Sosial, program diarahkan pada pemberian keterampilan bagi anak jalanan, antara lain perbengkelan dan kecantikan, yang disertai dukungan bantuan modal usaha.
Melalui kerja sama tersebut, pemberdayaan pemuda diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut hingga terbentuk kemandirian ekonomi dan sosial.
BPO DIY Dorong Pembangunan Pemuda yang Inklusif. Pemberdayaan pemuda juga diarahkan agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses, termasuk penyandang disabilitas dan pemuda di wilayah dengan jaringan internet terbatas.
“BPO DIY menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses beasiswa bagi pemuda yang menghadapi keterbatasan ekonomi.Untuk memperluas akses informasi dan pembelajaran, BPO juga mengembangkan program Jogja Belajar yang menyasar pemuda di wilayah blank spot atau daerah dengan keterbatasan jaringan internet,” jelasnya.
Dalam bidang olahraga, fasilitas bagi penyandang disabilitas didukung melalui National Paralympic Committee (NPC).
BPO DIY juga berupaya memastikan kegiatan kepemudaan dapat diakses secara inklusif dengan menyediakan juru bahasa isyarat dalam setiap kegiatan. Dari sisi fasilitas fisik, kantor BPO DIY dilengkapi toilet ramah disabilitas dan jalur akses khusus.
Informasi mengenai program dan kegiatan BPO DIY dapat diakses melalui situs resmi bpo-diy.id serta akun Instagram @bpo_diy.







Comments