STARJOGJA.COM, JOGJA— Istilah “remaja jompo” belakangan ini ramai digunakan anak muda untuk menggambarkan kondisi tubuh yang mudah pegal dan lelah meski masih berusia muda. Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Paru Respira, dr. Veronika Wardani T, Sp.KFR, menegaskan istilah tersebut bukanlah istilah medis, melainkan sebutan yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi kebugaran tubuh.
“Dalam istlah medis, istilah remaja jompo ini sebetulnya bukan penyakit, tetapi bahasa awam untuk membahasakan masih muda tapi kok badannya sudah pegal-pegal seperti orang tua,” ungkap Veronika.
Menurut Veronika, kondisi remaja jompo dapat berkaitan dengan kebugaran jantung dan paru-paru serta otot dan tulang yang kurang terlatih akibat minimnya aktivitas fisik.
Veronika menjelaskan, kondisi tersebut dapat dialami oleh orang yang bekerja dalam posisi tubuh tetap di waktu lama, seperti terlalu lama menunduk saat menggunakan laptop atau ponsel maupun duduk di kafe selama berjam-jam. Menurut Veronika, penerapan prinsip ergonomi diperlukan agar posisi dan lingkungan kerja tidak membebani tubuh.
Veronika juga membedakan aktivitas fisik dengan olahraga. Menurutnya, olahraga memiliki tujuan tertentu untuk meningkatkan kebugaran, sedangkan aktivitas fisik mencakup berbagai gerakan tubuh dalam kegiatan sehari-hari.
“Jangan terpacu kepada olahraga ekstra agar tubuh tidak jompo di usia muda. Lakukan aktivitas fisik yang biasa saja atau olahraga yang ringan saja itu sudah berdampak positif untuk tubuh,” ujarnya.
Anggota Komisi D DPRD DIY, Arni Tyas Palupi, S.T., menyoroti tingkat kebugaran fisik pelajar SMA/SMK di Jogja pada saat ini. Menurutnya, perhatian terhadap capaian akademik masih lebih besar dibandingkan kebugaran jasmani.
“Jadi anak jaman sekarang itu targetnya ke akademik, nilai-nilainya bagus. Tetapi untuk jasmanisnya kurang,” ungkap Arni.
Menurut Arni, rendahnya kebugaran fisik juga dapat berdampak ketika pelajar memasuki dunia kerja. Arni menyebut terdapat banyak pelajar SMA/SMK yang tidak memenuhi persyaratan kebugaran dalam sejumlah lowongan pekerjaan.
“Kalau kita biarkan dan menjadi sebuah kebiasaan akan tercipta banyak remaja yang merasa sudah jompo, padahal aslinya secara fisik dan secara kesehatan itu tidak,” ujarnya.
Arni juga menilai aktivitas olahraga di kalangan anak muda masih kerap dilakukan karena mengikuti tren atau FOMO (fear of missing out), bukan sebagai kebiasaan untuk menjaga kesehatan. Menurutnya, pemerintah kelurahan telah menyediakan sejumlah fasilitas seperti jogging track dan gedung olahraga, meski menurutnya penyediaannya belum merata.
“Meskipun naik turun tangga atau jalan kaki di lingkungan rumah saja sudah cukup, tetapi anak muda biasanya lebih membutuhkan suasana sehingga kami buatkan spot untuk olahraga,” pungkasnya.
Arni berharap keberadaan berbagai spot olahrga di lingkungan masyarakat dapat dimanfaatkan anak muda untuk lebih aktif bergerak. Menurutnya, fasilitas yang tersedia perlu diiringi dengan kebiasaan berolahraga agar kebugaran jasmani menjadi bagian dari keseharian.
Baca juga: DPRD Sleman Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa melalui Raperda
Penulis: Khoirul Fitrian Baroroh







Comments