HealthLifestyle

AI Bantu Dokter Jantung Tingkatkan Presisi Tindakan Kateterisasi

0
AI untuk dokter jantung jantung koroner deteksi dini jantung
jantung koroner (antara)
STARJOGJA.COM, Info – Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai dimanfaatkan untuk mendukung dokter dalam mengambil keputusan saat menangani pasien penyakit jantung. Salah satu pengembangannya diterapkan dalam prosedur Percutaneous Coronary Intervention (PCI), termasuk pemasangan kateter dan stent pada pembuluh darah yang mengalami penyumbatan.
Dalam tindakan PCI, dokter mengarahkan alat menuju pembuluh darah dengan mengandalkan citra sinar-X dua dimensi. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena struktur organ dan pembuluh darah yang ditangani memiliki bentuk tiga dimensi dan dapat memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi.
Tantangan visualisasi tersebut mendorong pengembangan teknologi yang memadukan AI dan rekayasa sistem komputer. Salah satunya melalui penelitian Computer Assisted Medical Intervention for Percutaneous Coronary Intervention (CAMI-PCI) yang dikembangkan Agung Alfiansyah, Faculty Member Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya.
Sistem tersebut dirancang sebagai teknologi navigasi berbasis komputer yang memadukan data CT Scan atau MRI dengan citra fluoroscopy secara real-time. Penggabungan data tersebut ditujukan untuk membantu dokter memantau posisi kateter dan kondisi pembuluh darah dengan visualisasi yang lebih presisi selama prosedur berlangsung.
Agung mengatakan pemanfaatan AI seharusnya tidak terbatas pada pembuatan teks, gambar, maupun pengembangan robot. Menurutnya, teknologi tersebut juga memiliki peluang untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata, termasuk dalam bidang kesehatan.
“AI sering dipersepsikan identik dengan robot atau chatbot. Padahal potensinya jauh lebih luas. Melalui penelitian ini kami ingin menunjukkan bahwa AI juga dapat membantu dokter mengambil keputusan yang lebih presisi sehingga manfaat akhirnya kembali kepada pasien,” ujar Agung.
Pengembangan CAMI-PCI melibatkan sejumlah bidang teknologi yang dikembangkan dalam Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya. Teknologi tersebut mencakup Artificial Intelligence, Computer Vision, Medical Image Processing, Sensor Fusion, Embedded System, hingga Software Engineering.
CAMI-PCI dikembangkan bukan untuk menggantikan dokter dalam mengambil keputusan. Sistem tersebut berperan sebagai “navigator digital” yang memberikan informasi tambahan selama prosedur PCI berlangsung.
Dukungan visualisasi yang lebih akurat diharapkan dapat membantu dokter memperoleh informasi secara lebih cepat dan presisi ketika melakukan tindakan. Teknologi tersebut juga ditujukan untuk mengurangi risiko yang dapat muncul akibat keterbatasan visualisasi dengan metode konvensional.
“Kami tidak ingin menggantikan keputusan dokter, tetapi memberikan informasi yang lebih lengkap agar setiap keputusan dapat diambil dengan lebih tepat. Harapannya, tindakan menjadi lebih aman, lebih efisien, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien,” kata Agung.
Menurut Agung, pengembangan AI ke depan tidak hanya bergantung pada kemampuan algoritma, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkan bagi manusia. Karena itu, Program Studi AI & Robotics Universitas Prasetiya Mulya mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan AI dengan berbagai bidang, termasuk kesehatan, manufaktur, energi, dan industri digital.
Melalui penelitian CAMI-PCI, pengembangan AI ditunjukkan tidak selalu harus hadir dalam bentuk robot atau perangkat yang terlihat secara langsung. Teknologi tersebut juga dapat bekerja di balik layar untuk membantu dokter memperoleh informasi yang lebih lengkap selama memberikan layanan kepada pasien.
Sumber : Bisnis
Bayu

67 Ribu Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Indonesia vs Thailand Sold Out

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health