FeatureFeaturedFlash InfoHealth

Paru-paru Malas Berawal dari Kebiasaan Rebahan

0

STARJOGJA.COM, JOGJA—Paru-paru malas merupakan sebuah akibat dari aktivitas sederhana berupa rebahan. Tidak semua orang tahu bahwa aktivitas yang bersembunyi di balik kata self reward dan self healing ini dapat menimbulkan penyakit.

“Awalnya hanya self reward, weekend rebahan setiap hari tapi akhirnya menumpuk, enggak ada produktivitas di hari liburnya. Padahal siapa tahu magernya itu ada penyakit di belakangnya. Takutnya mager itu lemas karena anemia, hipoglikemi, dehidrasi, kurang gizi. Jadi kita harus bedain dulu magernya benar-benar ada penyakit fisik di belakangnya atau hanya mager kita aja,” ujar Lilis Indri Astuti, dokter umum RS Paru Repira dalam Bicara Jogja di Star FM Yogyakarta.

Lilis menyebutkan, jika seseorang malas gerak (mager), kebutuhan bernapas menjadi sedikit dan bernapas menjadi malas karena aktivitas yang dilakukan tidak menantang sehingga tidak butuh banyak oksigen. Istilah paru-paru malas digunakan dalam ruang lingkup sederhana, di mana belum menjangkau penyakit dalam situasi yang kritis.

“Kalau lagi rebahan, paru yang mengembang hanya bagian atas, padahal paru ada tiga segmen, atas, tengah, dan bawah. Kalau rebahan paru yang bawah diam,” jelasnya.

Jika seseorang tidak menggunakan otot pernapasan secara maskimal, oksigen yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih sedikit. Hal tersebut yang membuat badan merasa lelah dan pusing ketika terlalu banyak rebahan.

“Kalau rebahan saja, kita tidak bisa mengembangkan otot pernapasan termasuk diafragma, sehingga udara yang masuk ke dalam paru itu tidak sesuai dengan yang seharusnya kita butuhkan oleh tubuh,” cetusnya.

Lilis menambahkan, terlalu banyak rebahan membuat kapasitas paru-paru menjadi berkurang, otot diafragma menjadi tidak elastis dan kaku. Oleh karenanya, harus ada waktu untuk berisitirahat, berdiri dan menarik napas.

“Apalagi yang di depan monitor, harus ada waktu istirahatnya. Bukan istirahat yang total, tapi dalam artian kita memberikan jeda atau kesadaran ke diri kita untuk bernafas,” tuturnya.

Lilis menjelaskan, di dalam saluran pernapasan terdapat silia yang berfungsi untuk menangkap debu, kotoran, dan membantu mengeluarkannya. Jika tubuh aktif bergerak, silia akan bekerja lebih aktif untuk membantu menangkap dan mengeluarkan kotoran.

“Karena kita rebahan aja, nanti nabung sampah di paru-paru. Jadi, kalau ada virus dan bakteri, misalnya dari rokok atau dari debu dan segala macamnya, jadi mudah tidur di situ. Jadi mudah sakit pernapasannya,” ujar Lilis.

Paru-paru malas tidak hanya berdampak bagi paru-paru saja, tetapi juga berdampak pada otot, tulang, bahkan otak. Salah satunya adalah muskuloskeletal, tubuh menjadi mudah pegal, kaku, dan sakit badan meskipun sudah tidur cukup lama.

“Otak juga terpengaruh karena suplai oksigen kurang, jadi gampang ngantuk dan gak fresh. Habis rebahan bukan kembali fresh tapi justru mengantuk, berpengaruh ke konsentrasi belajar dan bekerja,” jelasnya.

Menurutnya, fungsi paru-paru yang mulai menurun dapat dirasakan dari napas yang pendek ketika berjalan kaki atau naik tangga. Untuk meningkatkan fungsi paru-paru dibutuhkan tubuh yang sehat dengan cara dilatih dengan pergerakan yang ritmis.

Istirahat dan peregangan setiap dua jam dibutuhkan saat rebahan dan duduk menatap layar terlalu lama. Istirahat dapat dilakukan dengan box of breathing, yakni dengan menarik napas lalu menahannya, kemudian membuang napas dan menahannya kembali dengan durasi masing-masing 4 detik.

“Kalau dimaksimalkan bisa jadi 2 sampai 3 menit. Cuma sebentar, tapi sangat bermanfaat untuk paru-paru dan juga mata,” tambah Lilis.

Baca juga : Olahraga Jadi Tren, Kesehatan Paru Harus Jadi Prioritas

Penulis : Dwina Kayla

Komunitas Jogja Mendongeng, Merawat Budaya Tutur di Tengah Era Digital

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature