Flash InfoHealthKota JogjaNews

Jangan Anggap Sepele Mata Minus pada Anak

0

STARJOGJA.COM,JOGJA. Mata minus atau myopia pada anak semakin menjadi perhatian para orang tua. Kondisi yang membuat anak kesulitan melihat objek jauh ini ternyata bukan sekadar masalah yang dapat diatasi dengan penggunaan kacamata biasa. Jika tidak ditangani sejak dini, myopia berisiko terus bertambah dan dapat memengaruhi kesehatan mata anak di masa depan.

Dokter Spesialis Mata RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dr. Amanda Nur Shinta P., Sp.M., FIACLE, menjelaskan  gangguan refraksi merupakan masalah mata yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Gangguan ini terjadi ketika mata tidak mampu memfokuskan cahaya secara tepat ke retina sehingga penglihatan menjadi kabur.

“Dari berbagai jenis gangguan refraksi, miopia atau mata minus merupakan yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Kebiasaan melihat jarak dekat terlalu lama, seperti penggunaan gadget tanpa jeda atau membaca dalam waktu lama, menjadi salah satu faktor yang berkontribusi,” jelas dr. Amanda.

Di Indonesia, sekitar 3,6 juta anak mengalami kelainan refraksi. Sayangnya, banyak kasus yang tidak terdeteksi karena anak sering kali tidak menyadari bahwa penglihatannya bermasalah.

Menurut dr. Amanda, masih banyak orang tua yang menganggap mata minus hanyalah masalah sederhana yang cukup diselesaikan dengan penggunaan kacamata. Padahal, miopia merupakan kondisi yang bersifat progresif dan dapat terus bertambah seiring pertumbuhan anak.

“Bukan hal yang sederhana gitu ya. Itu hal yang efeknya tuh jangka panjang gitu, sehingga harus banget banget diperhatikan sejak anak-anak itu mulai usia dini, harus diskrining,” ujarnya.

Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal miopia, seperti anak sering menyipitkan mata, mengeluh pusing atau mata lelah, kesulitan melihat tulisan di papan tulis, hingga kebiasaan duduk terlalu dekat dengan televisi atau layar gadget.

Saat ini, pendekatan penanganan miopia tidak lagi hanya berfokus pada koreksi penglihatan agar anak dapat melihat dengan jelas. Dunia kesehatan mata telah mengembangkan konsep myopia management atau manajemen miopia yang bertujuan memperlambat laju pertambahan minus pada anak.

“Tujuan utamanya bukan hanya membuat anak bisa melihat dengan baik, tetapi juga menjaga kesehatan mata jangka panjang dengan mengendalikan perkembangan minus,” terang dr. Amanda.

Menurutnya, intervensi sejak dini memberikan peluang yang lebih besar untuk menghambat pertambahan minus karena mata anak masih berada dalam masa pertumbuhan.

Orang tua disarankan mulai melakukan pemeriksaan mata secara rutin sejak anak memasuki usia sekolah. Salah satu momen yang dianggap ideal adalah saat liburan sekolah.

“Liburan sekolah menjadi waktu yang sangat baik untuk melakukan pemeriksaan mata karena tidak mengganggu aktivitas belajar dan orang tua biasanya memiliki waktu yang lebih fleksibel,” ujar dr. Amanda.

Selain penggunaan kacamata koreksi biasa, kini tersedia berbagai pilihan terapi untuk membantu mengelola perkembangan miopia pada anak. Salah satunya adalah teknologi lensa berbasis DIMS (Defocus Incorporated Multiple Segments) yang dirancang tidak hanya untuk memperjelas penglihatan, tetapi juga membantu memperlambat pertambahan minus.

Teknologi ini menjadi salah satu pilihan yang mulai banyak digunakan dalam program manajemen miopia, terutama pada anak usia sekolah yang mengalami pertumbuhan minus secara progresif.

“Jangan menunggu sampai anak mengeluh atau minusnya sudah tinggi. Semakin cepat dilakukan pemeriksaan dan intervensi, semakin besar peluang untuk melindungi kesehatan penglihatan anak dalam jangka panjang,” tegas dr. Amanda.

Dalam kesempatan yang sama, Yonatan Eko Nugroho A.Md.RO Lens Expert HOYA Lens Indonesia memperkenalkan salah satu inovasi lensa yang dikembangkan untuk mendukung manajemen miopia pada anak, yaitu MiYOSMART.

Yonatan menjelaskan bahwa HOYA merupakan perusahaan asal Jepang yang telah lebih dari 80 tahun bergerak di industri kesehatan mata dan pengembangan teknologi lensa. Melalui berbagai inovasi, HOYA berupaya menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu memperjelas penglihatan, tetapi juga mendukung kesehatan mata jangka panjang.

“MiYOSMART dikembangkan sebagai bagian dari pendekatan manajemen miopia. Teknologi DIMS yang digunakan telah melalui pengujian klinis selama delapan tahun dan saat ini telah digunakan di lebih dari 50 negara,” ujar Yonatan.

Yonatan menambahkan bahwa lensa MiYOSMART dirancang untuk anak dan remaja usia 6 hingga 18 tahun yang mengalami miopia. Ia juga mengingatkan bahwa dalam penanganan miopia, faktor waktu menjadi sangat penting.

“Pertumbuhan miopia yang progresif membuat kita seolah berlomba dengan waktu. Karena itu, semakin cepat anak mendapatkan penanganan yang tepat, semakin baik peluang untuk mengelola perkembangan minusnya,” jelasnya.

Dengan semakin banyaknya pilihan teknologi dan metode manajemen miopia yang tersedia saat ini, orang tua diharapkan dapat berkonsultasi dengan dokter mata atau profesional kesehatan mata untuk menentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan anak.

Baca juga : Orang Tua Cek Kelainan Mata Anak Sejak Dini

Aloy dan JayJax Duo DJ DNA Rilis Album Perdana OURORA

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Flash Info