STARJOGJA.COM, JOGJA— Jakal Bookshop Festival 2026 menjadi festival toko buku pertama di Indonesia. Festival yang berlangsung selama 11 hari ini diselenggarakan di kawasan Jalan Kaliurang (Jakal), Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai salah satu koridor literasi dan pusat berkumpulnya toko buku independen serta komunitas kreatif di Jogja.
Tomi Wibisono, sebagai founder Buku Akik sekaligus penggagas Jakal Bookshop Festival (Jakalbookshopfest) 2026, menjelaskan bahwa acara ini hadir sebagai bagian dari perhelatan Jakal Design Week 2026.
“Jakal Bookshop Festival ini kan merupakan bagian dari Jakal Design Week, yang dimana acara ini menjadi salah satu rangkaian yang mempertemukan berbagai pelaku kreatif di sepanjang Jalan Kaliurang termasuk toko-toko buku yang ada di Jalan Kaliurang,” Jelas Tomi pada Kamis (21/8/2026).
Festival yang digadang-gadang sebagai festival toko buku pertama di Indonesia ini mengusung semangat kolaborasi antar-ruang literasi di kawasan Jalan Kaliurang. Edisi perdana festival ini menggandeng sebanyak 14 toko buku independen.
Masing-masing toko buku tersebut merancang dan menyelenggarakan agendanya sendiri, yang kemudian dipadukan ke dalam satu kalender festival bersama.
“Tujuannya kan memang untuk merayakan toko buku yang ada. Karena selama ini sebenernya temen-temen pada bikin acara sendiri-sendiri kaya Buku Akik punya acara sendiri setiap tahunnya, mojok juga, tapi kali ini kita bareng-bareng gabungin jadi satu kaya menjahit satu rangkaian acara gitu,” tambah Tomi.
Secara keseluruhan, Jakalbookshopfest menghadirkan sekitar 140 program kegiatan selama rentang waktu 20—30 Agustus 2026, dengan menghadirkan beragam narasumber dari berbagai latar belakang. Beragam kegiatan tersebut meliputi diskusi dan peluncuran buku, talkshow, workshop dan kriya, membaca nyaring, hingga aktivasi seni dan musik yang menghadirkan penulis, komunitas, serta berbagai pelaku kreatif dari latar belakang berbeda.
Tomi juga mengatakan bahwa festival ini berbeda dengan festival pada umumnya yang terpusat di satu titik, Jakalbookshopfest menerapkan konsep desentralisasi (decentralized).
“Kalau biasanya festival itu berpusat di satu tempat utama, nah di festival ini seluruh toko buku yang terlibat menjadi venue utama. Konsepnya memang kami buat desentralized dengan tujuan semua toko buku tuh hidup, jadi tidak ada satu tempat yang menjadi venue utama” ucap Tomi.
Melalui penyelenggaraan perdana ini, Jakalbookshopfest diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang memperkuat jejaring antartoko buku, komunitas, serta pelaku kreatif sekaligus memperkenalkan Jalan Kaliurang sebagai salah satu kawasan literasi di Yogyakarta.
Baca juga: Festival Teater Kota Yogyakarta 2026 Hadirkan Kolaborasi 14 Kemantren
Penulis: Ulima Fauzia Elisa







Comments