STARJOGJA.COM, Info – Program Tutur Tumurun 2026 kembali digelar sebagai ruang untuk mengolah kekayaan cerita, folklor, mitologi, serta pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Program kegiatan dari Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini pun siap menggelar puncak perayaan sastra bertajuk Pesta Cerita pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Dyah Wahyu Aprilina, SIP, MPA Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Seni Budaya TBY, mengatakan Tutur Tumurun menjadi salah satu program dukungan alokasi khusus kebudayaan pada 2026 yang mendorong peserta menggali cerita yang diwariskan antargenerasi untuk dikembangkan menjadi karya sastra. Program tersebut sebelumnya telah diselenggarakan pada 2024 dan kembali digelar dengan rangkaian kegiatan yang mencakup proses pembelajaran, riset, kurasi karya, hingga selebrasi.
“Jadi pada tahun 2026 ini Kepala Taman Budaya Yogyakarta kembali dipercaya oleh Kementerian Kemudayaan dan Kebudayaan Indonesia untuk menerima dana alokasi khusus non fisik yang untuk selanjutnya kami brekdown menjadi beberapa kegiatan, beberapa diantaranya yang salah satunya adalah Tutur Temurun ini,” ujarnya dalam jumpa pers di TBY Rabu (7/10/2026).
Dyah menjelaskan, Tutur Tumurun berangkat dari kesadaran bahwa kekayaan budaya di masyarakat tidak hanya berbentuk tradisi yang tampak, tetapi juga cerita, ingatan, tutur, keyakinan, petuah, dan berbagai pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Berangkat dari situ kami bekerjasama dengan Gawai institut membuat rangkaian kegiatan tutur temurun ini,” katanya.
Tim Produksi Tutur Tumurun Fathurahman Ramadhan mengatakan rangkaian kegiatan diawali dengan kelas intensif yang menghadirkan sejumlah narasumber untuk memberikan gambaran mengenai folklor dan kekayaan cerita di Yogyakarta. Peserta kemudian melakukan riset dan mengembangkan temuan tersebut menjadi karya yang dapat dipresentasikan.
Dalam proses kurasi, puluhan karya diseleksi hingga menghasilkan 10 karya terbaik yang kemudian dipresentasikan oleh para peserta.
“Besok tanggal 9 Oktober kita laksanakan malam puncak, awarding pmeberian hadiah dan juga selebrasi melalui Pesta Cerita dan bisa kita lihat launching buku ontologi Tutur Temurun besok ada 20 karya terpilih,” katanya.
Rangkaian ini diawali dengan lokakarya bersama Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlina Tiens, lalu dilanjutkan dengan sayembara yang dinilai oleh dewan juri Ramayda Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriyana. Dari total 75 naskah cerpen karya penulis muda DIY berusia 17–35 tahun, terpilih 10 karya nomine yang kemudian disaring menjadi 5 karya terbaik.
Menurut perwakilan Dewan Juri Tutur Temurun 2026, Hasta Indriyana, proses tersebut tidak hanya melihat karya dari sisi sastra, tetapi juga membuka ruang bagi peserta untuk menghadirkan perspektif lain seperti psikologi, sosial, hingga lingkungan. Peserta kemudian untuk mempresentasikan hasil karya yang membuat juri kagum dengan cara peserta mempresntasikan hasil karyanya.
“Presentasi ini bagus sekali karena ada pengetahuan yang coba untuk dibagikan oleh presentasi 10 peserta. Bagus sekali itu bisa dipakai untuk media pembelajaran, untuk pembelajaran apapun, tidak hanya sastra, untuk pendidikan, untuk anak-anak,” ujarnya.
Hasta menilai proses kreatif peserta menunjukkan keberanian dalam mengembangkan folklor. Sejumlah peserta tidak sekadar menyalin cerita yang sudah ada, tetapi melakukan eksplorasi dan inovasi terhadap tokoh, latar, maupun persoalan yang terdapat dalam cerita.
” Karena program ini banyak peserta mencari baik data text atau lainnya kemudian mengolahnya, ini penting karena mereka tidak tahu sekarang jadi paham,” katanya.
Puncak program Tutur Tumurun 2026 dengan awarding dan selebrasi melalui Pesta Cerita pada 9 Oktober. Selain pengumuman karya terbaik, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan karya-karya yang telah dihasilkan selama rangkaian program. Selebrasi turut diisi berbagai pertunjukan seni, mulai dari pertunjukan puisi, pembacaan dramatik, tari, hingga musik.
Melalui Tutur Tumurun, kekayaan folklor dan mitologi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Program ini membuka ruang bagi generasi sekarang untuk membaca kembali, meneliti, dan mengolah cerita yang hidup di masyarakat menjadi karya baru yang tetap memiliki hubungan dengan konteks kehidupan hari ini.







Comments