STARJOGJA.COM, Info – Terapi presisi kini menjadi salah satu terobosan dalam penanganan kanker perempuan. Pendekatan yang menyesuaikan pengobatan berdasarkan karakteristik genetik pasien dan tumornya dinilai mampu meningkatkan efektivitas terapi sekaligus memperpanjang harapan hidup pasien.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker payudara dan 604 ribu kasus baru kanker serviks di dunia sepanjang 2024. Sementara itu, data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat Indonesia memiliki 408.661 kasus kanker baru dengan 242.988 kematian. Kanker payudara menjadi jenis kanker terbanyak pada perempuan dengan 66.271 kasus baru, disusul kanker serviks sebanyak 36.964 kasus dan kanker ovarium 15.130 kasus.
Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, mengatakan terapi presisi telah menjadi pendekatan baru dalam penanganan kanker karena setiap pasien memiliki karakteristik penyakit yang berbeda.
“Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien,” ujarnya di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi histopatologi dan analisis molekuler memungkinkan dokter mengidentifikasi karakteristik kanker secara lebih rinci. Pada kanker payudara, misalnya, pemeriksaan dapat membedakan subtipe seperti hormone receptor-positive, HER2-positive, hingga triple-negative breast cancer, yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda.
Dengan hasil pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan terapi yang paling tepat, mulai dari terapi hormonal, terapi target (targeted therapy), terapi anti-HER2, imunoterapi, hingga kombinasi beberapa metode sesuai profil biologis tumor pasien.
Dr. See menilai penerapan terapi presisi menjadi tonggak penting dalam pengobatan kanker karena mampu meningkatkan efektivitas terapi dibandingkan pendekatan konvensional yang diterapkan satu hingga dua dekade lalu.
“Tingkat harapan hidup pasien kini makin tinggi,” katanya.
Selain meningkatkan peluang kesembuhan, kemajuan terapi kanker juga membantu menjaga kualitas hidup pasien. Pada kondisi tertentu, perkembangan teknik pembedahan bahkan memungkinkan perempuan usia muda tetap mempertahankan fungsi reproduksinya sehingga peluang untuk memiliki keturunan masih dapat dipertimbangkan sesuai kondisi klinis masing-masing pasien.
Sumber : Bisnis







Comments