Flash InfoHealthLifestyleNews

Abu Vulkanik Bisa Picu Iritasi Kulit, Orang Tua Perlu Waspadai Dampaknya pada Keluarga

0
abu vulkanik kulit
Ilustrasi masalah kulit wajah (Foto : Freepik)

STARJOGJA.COM,INFO. Abu vulkanik yang beterbangan setelah erupsi gunung berapi tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan kulit seluruh anggota keluarga.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE, mengingatkan bahwa paparan abu vulkanik dapat menyebabkan kulit menjadi kering, terasa perih atau terbakar, gatal, hingga kemerahan.

“Pada kebanyakan orang, kontak singkat dengan abu tidak menyebabkan masalah kulit yang berat,” ujar dr. Arini saat dihubungi ANTARA, Senin.

Meski demikian, orang tua perlu memberikan perhatian ekstra kepada anggota keluarga yang memiliki kulit sensitif. Menurut dr. Arini, risiko iritasi lebih tinggi pada mereka yang memiliki dermatitis atopik atau eksim, rosacea, maupun kondisi lapisan pelindung kulit (skin barrier) yang sedang terganggu, misalnya setelah perawatan laser atau peeling.

Partikel abu vulkanik memiliki sifat abrasif yang dapat memperparah iritasi jika tidak ditangani dengan benar. Karena itu, masyarakat disarankan untuk tidak menggosok atau mengusap abu yang masih menempel dalam kondisi kering di kulit.

“Gesekan saat menggosok abu justru dapat meningkatkan iritasi pada kulit,” jelas dokter lulusan Universitas Harvard tersebut.

Bagi keluarga yang tinggal di wilayah terdampak abu vulkanik, membersihkan kulit sesegera mungkin menjadi langkah penting. Namun, proses pembersihan perlu dilakukan dengan hati-hati.

Pertama, lepaskan pakaian yang banyak terkena abu agar partikel tidak terus menempel pada kulit. Setelah itu, bilas tubuh menggunakan air bersih yang mengalir untuk membantu mengangkat partikel abu tanpa banyak gesekan.

Saat mandi, gunakan air sejuk atau suam-suam kuku serta pembersih yang lembut. Hindari penggunaan scrub, spons kasar, maupun kebiasaan menggosok kulit terlalu kuat.

Setelah mandi, keringkan kulit dengan cara ditepuk perlahan menggunakan handuk bersih, lalu segera aplikasikan pelembap untuk membantu menjaga kelembapan kulit.

Jika wajah mulai menunjukkan tanda-tanda iritasi akibat abu vulkanik, dr. Arini menyarankan untuk sementara menghentikan penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung bahan aktif seperti retinoid, AHA/BHA, maupun produk eksfoliasi dan scrub. Langkah ini bertujuan memberi waktu bagi kulit untuk pulih dan mengurangi risiko peradangan yang lebih berat.

Dalam kondisi paparan abu vulkanik, perlindungan fisik dinilai lebih penting dibanding penggunaan obat-obatan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan pelembap sederhana tanpa pewangi yang membantu memperkuat skin barrier.

Pilih produk yang mengandung bahan seperti ceramide, glycerin, atau kombinasi humektan dan emolien lainnya. Pelembap ini dapat membantu menjaga kulit tetap lembap dan mengurangi risiko iritasi, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

Bagi keluarga muda yang tinggal di daerah terdampak erupsi, menjaga kebersihan kulit dan menggunakan perlindungan yang tepat dapat menjadi langkah sederhana namun penting untuk mencegah masalah kulit selama musim abu vulkanik.

The Blind Warrior, Gim Adaptasi Si Buta dari Gua Hantu

Previous article

Potensi sebaran abu vulkanik Anak Krakatau di DIY masih minim

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Flash Info