STARJOGJA.COM, Info – Buku Makanologie mengangkat kisah 17 koki diaspora Indonesia yang selama puluhan tahun memperkenalkan kuliner Nusantara di Belanda. Buku tersebut ditulis sejarawan Indonesia Yulia Pattopang bersama pakar warisan kuliner Belanda Helena Smit dan memotret perjalanan makanan Indonesia di Negeri Kincir Angin sejak era 1970-an.
“Chef Indonesia, mereka melakukan tugas yang luar biasa dalam membuat makanan, dan mempromosikan makanan Indonesia dengan cara yang berbeda daripada restoran-restoran lain, atau yang dilakukan oleh Toko. Tapi, mereka jarang mengambil panggung. Mungkin karena mereka malu, atau mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan tidak penting, dan Julia dan saya ingin mengubah hal tersebut,” kata Helena Jumat (23/5/2026).
Helena menjelaskan buku tersebut tidak hanya membahas perjalanan karier para koki, tetapi juga menggambarkan perjuangan mereka bertahan membangun restoran Indonesia di tengah tantangan hidup sebagai perantau. Kisah dalam buku juga memperlihatkan bagaimana makanan Indonesia perlahan berkembang dan semakin dikenal masyarakat Belanda.
Menurut Helena, para chef diaspora menghadapi berbagai kesulitan, termasuk keterbatasan tenaga kerja yang memahami masakan Indonesia autentik. Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha kuliner Indonesia harus berjuang sendiri untuk menjaga cita rasa khas Nusantara tetap bertahan di Belanda.
“Di Belanda sangat sulit bagi orang Asia untuk bergantung untuk bekerja sebagai chef, dan juga untuk chef Indonesia. Jadi, apa yang juga terdapat dalam cerita tentang chef adalah mereka menemukan kesulitan untuk menemukan chef yang bisa membuat makanan Indonesia yang terkenal,” katanya.
Buku Makanologie juga mengulas ragam masakan daerah Indonesia seperti Madura, Minang, hingga Palembang yang dibawa langsung oleh koki asli daerah tersebut. Selain memperkenalkan budaya kuliner Indonesia, para chef juga harus menyesuaikan resep dengan bahan baku yang tersedia di Belanda agar tetap bisa diterima pasar lokal.
Helena menilai perkembangan kuliner Indonesia di Belanda kini mengalami perubahan besar dibanding beberapa dekade lalu. Jika dahulu makanan Indonesia identik dengan rijsttafel atau nasi rames, kini semakin banyak restoran Indonesia yang mampu menyajikan cita rasa autentik dan diterima luas masyarakat Belanda.
“Orang Indonesia yang datang ke Belanda hanya berpikir makanan Indonesia di sana hanya ristafel atau nasi rames, tapi sekarang banyak imigran Indonesia yang menjalankan restoran dengan sukses membuat makanan yang sama dengan Indonesia, sangat berubah dari tahun ke tahun,” katanya.
Ia memperkirakan dalam beberapa tahun mendatang jumlah restoran Indonesia di Belanda akan terus bertambah. Namun, menurutnya, tantangan terbesar tetap bagaimana mempertahankan kualitas dan identitas kuliner Indonesia agar semakin dikenal generasi baru di Belanda.
Focus Keyphrase:
Tag SEO:
Sumber : Antara
Baca juga :







Comments