Lifestyle

Perajin Topeng Ki Supono di Bantul Bekali Diri Menari dan Nembang agar Topeng Klasiknya Punya Roh

0
perajin topeng Ki Supono Bantul
perajin topeng Ki Supono Bantul (antara)

STARJOGJA.COM, Info – Perajin topeng tradisional Sanggar Warnowaskito di Desa Diro, Pendowoharjo, Kabupaten Bantul, Ki Supono, membekali diri dengan seni tari, tembang Jawa, dan pedalangan. Kemampuan itu ia gunakan untuk menghidupkan karakter setiap topeng klasik yang dibuatnya.

“Bukannya untuk terus menjadi penari atau dalang profesional, keterampilan saya tetap pembuat topeng. Tetapi bekal itu harus ada karena hasilnya nanti akan sangat berbeda,” kata Supono saat ditemui di sanggarnya di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (29/10/2026).

Di sanggar warisan keluarga itu, Supono memproduksi perlengkapan seni pertunjukan. Produk utamanya meliputi topeng kayu lakon Panji gaya Yogyakarta, topeng kontemporer, dan topeng alternatif dari daur ulang kertas sak semen, ditambah irah-irahan, busana tari lengkap dengan keris dan kain batik, wayang golek pesanan, serta keprak jinjing dari kayu nangka.

Karena karyanya ditujukan untuk panggung, Supono menilai pembuat topeng wajib memahami gerak watak tokoh, dari kesatria halus, jenaka, raja, hingga raksasa.

“Harus tahu karakternya seperti apa. Kalau tahu gerakannya, otomatis nanti kalau memproses akan tersalur ke dalam karya. Kalau (pengrajin) tidak bisa joget, ya cuma sekadar halus, tapi, karakternya kurang,” ujar Supono.

Selain gerak tari, ia terbiasa memahat kayu sambil melantunkan tembang macapat seperti Dhandhanggula, Pocung, dan Mijil. Kebiasaan itu dipakai untuk melatih kepekaan rasa dan kesabaran saat membentuk detail mimik wajah topeng.

“Nembang itu sangat lembut, artinya di dalam proses membuat topeng itu perlu kesabaran. Makanya saya kalau berkarya ya sambil nembang,” tutur dia.

Keterpaduan rasa dari tari dan tembang itu diyakininya memberi ikatan emosional ketika topeng dikenakan penari di panggung. Ikatan tersebut lahir dari proses yang emosional.

“Setiap topeng punya ikatan batin karena lahir dari proses emosional. Tulang dan dagingnya adalah kayu, sedangkan karakternya adalah rohnya,” kata Supono.

Kekuatan karakter itu membuat produk sanggar di Krantil ini diminati penikmat seni dari Australia, Amerika, dan Eropa. Supono menekuni pembuatan topeng sejak 1971, warisan dari kakeknya, Ki Warno Waskito, dan sejak 1976 hingga kini masih mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


 

Sumber : Antara

Baca juga : Mengenal Wayang Topeng Duwet Sebagai Warisan Budaya

Bayu

2,6 Juta Warga Kuba Sulit Dapat Air Minum akibat Pemadaman Listrik

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle