FeatureFeaturedKab SlemanNews

Kenali Sinyal Bahaya Mengakhiri Hidup dan Hentikan Stigma ‘Kurang Iman’

0

STARJOGJA.COM,JOGJA. — Fenomena gangguan kesehatan mental dan perilaku mengakhiri hidup kian menjadi keprihatinan bersama.Kenali Sinyal Bahaya Mengakhiri Hidup dan Hentikan Stigma ‘Kurang Iman’

Saat mengudara di Star FM, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengungkapkan adanya lonjakan kasus bunuh diri yang signifikan pada tahun 2026.

Penelaah Kebijakan Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Sleman, Jefri Reza Pahlevi, mengungkapkan bahwa kasus yang teridentifikasi di Sleman mengalami peningkatan hingga hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

“Pada tahun 2025 lalu tercatat ada 7 kasus yang berhasil diidentifikasi. Namun di tahun 2026 ini kenaikannya cukup signifikan, naik hampir 100 persen,” ujar Reza.

Menanggapi lonjakan ini, Dinkes Sleman bersama Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) terus menguatkan langkah promotif, preventif, hingga pendampingan psikososial pasca-kejadian untuk keluarga terdampak guna mencegah trauma berkepanjangan (PTSD).

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) RSUD Sleman, dr. Dinar Aini, Sp.K.J., menyoroti respons masyarakat yang kerap salah kaprah saat mendengar isu atau kasus bunuh diri. Menurutnya, respons spontan menyudutkan seperti “kurang beriman”, “kurang bersyukur”, atau “lebay cari perhatian” justru semakin memperburuk kondisi mental seseorang.

“Bunuh diri bukan tanda lemah iman atau kurang bersyukur. Orang yang memiliki pemikiran bunuh diri sebenarnya tidak murni ingin mati, tetapi mereka sudah berada di titik sangat lelah, bingung, dan merasa tidak sanggup lagi menghadapi beban hidup,” tegas dr. Dinar.

Sesuai dengan tema global WHO tahun 2026, “Changing the Narrative on Suicide”, dr. Dinar mengajak masyarakat—khususnya para orang tua dan rekan kerja—untuk mengubah cara pandang dari menghakimi menjadi mendengarkan dan memahami.

Perilaku menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup jarang terjadi secara mendadak. Menurut dr. Dinar, biasanya ada tahapan perjalanan emosional dan sinyal yang dipancarkan oleh seseorang, antara lain Perubahan Drastis Perilaku.  Dari yang tadinya ceria dan tepat waktu menjadi pemurung, sering terlambat, tidak merawat diri, serta menarik diri dari hobi atau lingkungan sosial.

Ia pun menjelaskan Ada juga sinyal verbal yang juga harus diwaspadai.

 “Aku capek hidup, Kalau aku enggak ada, dunia bakal lebih tenang, atau Aku cuma jadi beban keluarga contohnya. Awas kalau muncul sinyal ini ,” tegasnya. 

Jika mendapati anggota keluarga, anak, atau rekan kerja yang menunjukkan sinyal-sinyal tersebut, dr. Dinar memberikan panduan langkah awal yang harus dilakukan, diantaranya adalah Validasi Perasaan.

“Dengarkan tanpa langsung memberikan nasihat menceramahi atau membandingkan masalahnya dengan orang lain. Cukup katakan Aku paham kamu sedang lelah. Kamu tidak sendiri, aku ada di sini kalau kamu mau cerita,” lanjutnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk menghubungi profesional jika menemui dorongan atau keinginan bunuh diri sangat kuat dan mendesak. Segera bawa bersangkutan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit terdekat.

“Masyarakat sering mengira IGD hanya untuk penyakit fisik. Padahal, dorongan bunuh diri merupakan kondisi darurat medis/psikiatris akibat gangguan impulsivitas pada otak yang membutuhkan penanganan medis segera, kapan pun kejadiannya,” pungkas dr. Dinar.

Baca juga :Kesehatan Jiwa Salah Satu Pilar Pembangunan Masyarakat Yogyakarta

Tak Perlu Kejar 10.000 Langkah, Jalan Kaki Rutin Sudah Bawa Banyak Manfaat

Previous article

Kerap Dijadikan ‘Dokter Pribadi’, Peneliti UGM Ingatkan Batasan Penggunaan AI untuk Kesehatan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Feature