Lifestyle

Mengenal Batik Gayam Mulyodadi, Kerajinan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

0
Batik Gayam Mulyodadi
Batik Gayam Mulyodadi (Ulima Fauzia Elisa)_

STARJOGJA.COM, JOGJA— Batik Gayam menjadi ikon kebanggaan masyarakat Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Kehadiran Batik Gayam lahir dari upaya melestarikan keberadaan tanaman gayam yang menjadi lambang desa, tetapi kerap membuat pengunjung penasaran karena buahnya yang bersifat musiman.

Inisiator Batik Gayam sekaligus istri Lurah Mulyodadi, Niken Anggraini, menjelaskan bahwa kerajinan ini digagas untuk mengenalkan ikon desa kepada tamu yang berkunjung sepanjang tahun

“Awalnya tuh tahun 2019 melalui PKK kita mulai pertama kali nyoba-nyoba nyanting, tapi motifnya gayam kemudian kita launchingkan yang juga diliput oleh SCTV lokal juga. Terus pas covid kita masih nyoba-nyoba bikin taplak atau baju yang digunakan pribadi,” jelasnya saat diwawancarai pada Senin, 27 Juli 2026.

Berkat dukungan dan sponsor dari pemilik usaha Margarita, para anggota PKK mendapatkan pelatihan serta bantuan alat cap batik. Semangat ini terus membuah hasil manis hingga Batik Gayam secara resmi mengantongi Hak Cipta gratis dari pemerintah pada tahun 2022.

Batik Gayam mengusung konsep wirausaha sosial, di mana seluruh keuntungan penjualan dialokasikan untuk membiayai berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Jadi Batik Gayam ini merupakan wirausaha sosial yang memang bertujuan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat Mulyodadi. Saat ini ada sekitar 15 hingga 20 pengrajin, termasuk kelompok penyandang disabilitas, yang semuanya merupakan warga Mulyodadi,” tambahnya.

Filosofi Batik Gayam melambangkan kerja keras dan simbol kebangkitan pemberdayaan warga. Dalam pengembangannya, motif gayam tidak tampil tunggal, melainkan kerap dikombinasikan dengan motif klasik seperti Truntum dan Kawung.

Seiring berjalannya waktu, ragam produk meluas menggunakan teknik ecoprint dan shibori yang diolah menjadi kain siap pakai, pakaian, hingga syal sesuai dengan pesanan konsumen yang mayoritas berasal dari kelompok komunitas dan arisan.

Batik Gayam Mulyodadi

Batik Gayam Mulyodadi (Ulima Fauzia Elisa)

Guna menjaga keberlanjutan usaha, pengelola melakukan revitalisasi model bisnis dengan tidak hanya berfokus pada jual beli produk, tetapi juga membuka kelas membatik berbayar. Uniknya, kelas ini mengusung inovasi pemanfaatan limbah kardus susu bekas sebagai cap batik.

“Batik Gayam ini baru saja melakukan revitalisasi. Karena kalau hanya mengandalkan pesanan, jumlahnya kadang tidak pasti atau justru terlalu banyak hingga pengrajin kami belum sanggup melayani dan terpaksa ditolak. Oleh karena itu, kami juga membuka kelas membatik berbayar dan alhamdulillah banyak yang tertarik,” ungkap Niken.

Konsumen dapat membeli produk Batik Gayam dengan harga mulai dari Rp250.000, atau mengikuti kelas membatik seharga Rp50.000 per orang yang sudah termasuk fasilitas membawa pulang hasil karya berupa sapu tangan.

Meski memiliki potensi besar dan konsep sosial yang kuat, pemasaran Batik Gayam saat ini masih menghadapi kendala, terutama pada jangkauan media sosial. Sebagai solusi, pengelola batik gayam aktif ikut serta dalam berbagai pameran UMKM, salah satunya Bantul Creative Expo.

Baca juga: Kain Ulos Jadi Sorotan Utama di Indonesia Fashion Week 2026

Penulis: Ulima Fauzia Elisa

Kisah Riswandi yang Meninggal Usai Selamatkan Ibu, Kakak dan Adik 

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle