Kab BantulKota JogjaLifestyleNewsPendidikan

Sandjivvane Integrative Support Kembangkan Pendidikan Inklusi melalui Program Seni dan Lokakarya

0
Star Playground Sabtu 25 Juli 2026 (FOTO : Elisa)

STARJOGJA.COM, JOGJA— Sandjivvane Integrative Support mengembangkan pendidikan inklusi melalui berbagai program yang menyasar anak-anak, orang tua, dan tenaga pendidik.

Komunitas yang berdiri pada 2024 itu menghadirkan ruang belajar berbasis seni, lokakarya, hingga pendampingan bersama mitra profesional untuk mendorong ruang belajar yang setara bagi semuanya.

Direktur Program Sandjivvane Integrative Support, Assabti N. H. M., menjelaskan bahwa komunitas tersebut lahir dengan semangat untuk mengembalikan pendidikan dan seni pada tujuan utamanya sebagai ruang tumbuh bagi setiap individu.

“Kita pengen membawa spirit bahwa hal-hal yang sekarang sudah banyak berubah dengan berbagai kepentingan, termasuk pendidikan dan seni, itu bisa kita kembalikan lagi ke fitrahnya,” jelas Assabti.

Salah satu program rutin yang dijalankan ialah Art Club yang berlangsung setiap Jumat dan Minggu. Kegiatan ini terdiri atas kelas creative dance dengan kapasitas maksimal 12 anak dan kelas seni rupa yang diikuti hingga 10 anak untuk jenjang usia dini sampai SMP.

“Untuk yang rutin di hari Jumat dan Minggu, per kelas kita maksimal 12 anak. Ada 12 anak di creative dance dan 10 anak yang aktif di seni rupa,” ungkap Assabti.

Sora, sebagai Tim Pengembang Sandjivvane Integrative Support, menambahkan bahwa Sandjivvane bekerja sama dengan sejumlah sekolah melalui lokakarya bagi guru dan tenaga pendidik untuk memperkuat penerapan pendidikan inklusi. Program ini menekankan kesetaraan serta keterlibatan setiap peserta didik tanpa membedakan gaya belajar.

“Yang menjadi dasar dari pendidikan inklusi adalah kesetaraan dan keterlibatannya. Kita tidak memandang siapa pun bisa lebih atau kurang dengan gaya belajar mereka yang berbeda-beda,” tutur Sora.

Di luar program reguler, Sandjivvane juga mengembangkan kegiatan insidental, salah satunya Listenal yang sempat digelar selama Ramadan dengan sasaran generasi Z dan milenial. Dalam pelaksanaannya, komunitas ini melibatkan psikolog dan mitra profesional untuk mendukung kegiatan yang memerlukan pendampingan khusus.

“Untuk kerja-kerja yang sesinya agak berat, kita tidak berani sendiri, kita selalu mengajak mitra profesional. Kita ada psikolog di Sandjivvane yang mendampingi dan nge-backup kita,” ujar Assabti.

Asabti mengatakan setiap program disusun berdasarkan kebutuhan peserta melalui proses riset. Program kolaborasi umumnya berlangsung sedikitnya satu bulan, sedangkan program yang dikembangkan secara mandiri dapat berjalan selama tiga hingga enam bulan.

“Kalau kolaborasi, biasanya minimal satu bulan. Tapi kalau dari aktivitas kita sendiri, itu bisa tiga sampai enam bulan karena kita riset dulu sebelum menentukan apa yang dibutuhkan,” cetus Assabti.

Baca juga: Mengenal Permainan Tradisional Bersama Komunitas Kampoeng Hompimpa

Penulis: Khoirul Fitrian Baroroh

Lukisan Ibu Pertiwi di Magelang Ajak Renungkan Makna Cinta Tanah Air  

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kab Bantul