STARJOGJA.COM, JOGJA— Djamu Djawa hadir mendobrak stereotip lama yang menganggap jamu hanyalah minuman pahit untuk penderita penyakit dan kalangan lanjut usia. Hadir di tengah pesatnya modernisasi gaya hidup, kedai yang berlokasi di Jl. Bausasran No. 31, Yogyakarta ini membuktikan bahwa racikan tradisional herbal tetap bisa diminati oleh semua kalangan.
Usaha yang berfokus pada olahan 100% bahan herbal alami ini resmi didirikan pada tahun 2011 oleh Bapak Hayom, seorang herbalis berpengalaman di Yogyakarta. Meski usahanya baru berdiri di awal dekade 2010-an, Djamu Djawa sebenarnya merupakan bisnis keluarga dengan racikan resep turun temurun sejak era 1990-an.
“Kedai ini berdiri sejak 2011, tapi kalau jualan jamunya udah dari tahun 90an karena ini kan resepnya juga resep keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi. Untuk alasan akhirnya bapak membangun kedai ini sih karena beliau ingin menciptakan bibit-bibit generasi yang sehat,” jelas Evi Angestia sebagai karyawan Djamu Djawa pada Selasa, 21 Juli 2026.
Uniknya, meski mempertahankan proses dan bahan-bahan tradisional, mayoritas pelanggan Djamu Djawa saat ini justru didominasi oleh generasi muda, terutama para atlet muda. Fenomena maraknya anak muda yang mulai peduli bahkan merasa FOMO (Fear of Missing Out) terhadap isu kesehatan menjadi pemicu utamanya.
“Loh sekarang tuh anak-anak muda malah pada njamu mbak, bahkan ada anak kecil usia 5 tahun yang udah terbiasa njamu disini. Kemaren ada pelanggan, atlet, sebelum berangkat triathlon itu mampir kesini dulu buat njamu,” ungkapnya.
Banyak pegiat olahraga dan anak muda aktif memanfaatkan jamu herbal ini sebagai penambah stamina alami (doping sehat) untuk menunjang performa fisik mereka tanpa efek samping bahan kimia.
Tak hanya mengandalkan racikan khas, Djamu Djawa juga mengusung konsep tempat yang merakyat dan santai agar pengunjung nyaman untuk sekadar nongkrong dan berinteraksi. Konsep ini sengaja dipilih oleh Bapak Hayom demi menjunjung tinggi nilai kesetaraan sehingga siapa pun dari berbagai latar belakang sosial bisa datang tanpa perlu merasa canggung atau minder.
Kesan merakyat tersebut makin diperkuat dengan harga yang sangat ramah di kantong mulai dari Rp6.000 hingga Rp12.000 per gelas.
Selain menyediakan berbagai varian jamu untuk menjaga kebugaran hingga mengatasi keluhan kesehatan, Djamu Djawa juga menawarkan pendekatan yang lebih personal. Setiap hari Rabu, Bapak Hayom membuka layanan konsultasi kesehatan secara langsung bagi para pengunjung yang ingin memahami kondisi tubuhnya serta mendapatkan racikan jamu yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Baca Juga: Kacang Bawang Mandhek Pahit, Camilan Tradisional yang Tak Lekang oleh Waktu
Penulis: Ulima Fauzia Elisa






Comments