Health

Kusta pada Anak Jadi Sorotan, UGM Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

0
Kusta Tropmed
Staf pengajar Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK UGM, dr. Dyah Lokita Swastyastu, M.Med.Sc., Sp.D.V.E. (starfm)

STARJOGJA.COM, JOGJA— Kusta masih menjadi salah satu penyakit terabaikan di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melaporkan bahwa Indonesia masih menemukan sekitar 14 hingga 15 ribu kasus baru kusta setiap tahunnya, dan 452 kasus kusta anak pada tahun 2026 ini.

Staf pengajar Departemen Dermatologi dan Venereologi FK-KMK UGM, dr. Dyah Lokita Swastyastu, M.Med.Sc., Sp.D.V.E., mengungkapkan bahwa saat ini kasus kusta pada anak saat ini menjadi perhatian khusus. Hal ini karena masa inkubasinya yang sangat panjang. Seseorang yang terinfeksi kusta bisa baru mengalami gejala klinis 2 hingga 3 tahun, bahkan hingga 10 sampai 20 tahun setelah pertama kali terpapar.

“Misalkan itu ditemukan pada anak-anak yang mana anak-anak itu kan definisinya adalah kurang dari 17 18 tahun ya. Artinya kalau tadi sama kita bandingkan dengan masa inkubasinya yang sekian lama berarti kan sebenarnya kasus aktifnya itu yang belum diobati itu kan ada di sekitar anak itu,” jelas dr, Dyah (23/7/2026)

Kusta merupakan infeksi kronis sistemik yang secara spesifik menyerang saraf perifer. Gejala paling khas ditunjukkan melalui munculnya bercak atau lesi pada kulit yang mengalami penurunan sensasi atau mati rasa (kebas).

Dr. Dyah juga menambahkan bahwa bercak kustaa atau lesi kerap menyerupai penyakit kulit umum seperti panu, jamur, atau kudis karena warnanya yang putih atau agak kemerahan.

“Jadi memang sangat mirip. Misalkan bercak di satu pipi atau siku dan tidak menimbulkan sesansi rasa sakit atau gatal, tetapi diobati dengan pengobatan jamur tidak kunjung sembuh kemudian baru beberapa saat dirujuk melakukan pemeriksaan untuk membuktikan bahwa itu suatu lesi,” ujarnya.

Dr. Dyah menekankan bahwa kusta bukanlah penyakit yang sangat mudah menular begitu saja. Penularan kusta membutuhkan waktu dan kriteria khusus, yaitu kontak erat berulang dalam jangka panjang (sekitar 20 jam per minggu).

Sayangnya, hal itu membuat kusta sering kali terabaikan karena tidak langsung memicu kematian. Meskipun demikian, penyakit kusta harus dideteksi sejak dini terutama pada anak- anak. Hal ini karena kusta yang terlambat didiagnosis dapat merusak saraf perifer yang menjadi pusat kendali pergerakan otot.

Kerusakan pada saraf perifer tersebut berpotensi memicu kelumpuhan hingga kecacatan permanen karena otot-otot yang mempersarafi pergerakan jari dapat mengecil (atrofi) dan memicu kaku atau membengkok (kontraktur). Oleh karena itu, temuan kusta pada anak harus menjadi alarm untuk segera melakukan pelacakan kasus aktif (active case finding) di lingkungan terdekatnya, seperti rumah tangga dan sekolah.

Dr. Dyah menegaskan bahwa kusta bukanlah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Jika terdeteksi lebih awal sebelum terjadi kerusakan saraf berat, kusta dapat disembuhkan secara melalui pengobatan yang terbagi menjadi dua.

“Kalau kurang dari lima lesi atau kurang dari lima bercak biasanya kita masukkan ke dalam pausi basiler. Nah, itu biasanya pengobatan atau mendapat obat yang harus habis dalam 6 sampai 9 bulan. Kemudian jika lebih dari lima lesi itu kita sebut multibasiler, itu kita bisa berikan obat yang harus dihabiskan dalam waktu 12 hingga 18 bulan itu,” jelas dr. Dyah.

Selain pengobatan bagi pasien, orang-orang di sekitar anak yang memenuhi kriteria kontak erat (seperti keluarga serumah) juga diberikan tindakan pencegahan (profilaksis) berupa obat dosis tunggal rifampisin (single-dose rifampicin).

Dr. Dyah pun mengimbau para orang tua untuk tidak ragu memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan bercak kebas yang tak kunjung sembuh, serta mengajak masyarakat untuk menghentikan stigma negatif terhadap penderita kusta agar proses pengobatan dapat berjalan tuntas.

Baca juga: Deteksi Dini Kunci Penting Penanganan Kanker Ginjal

Penulis: Ulima Fauzia Elisa

Rayakan Cinta di Jantung Kota, 1O1 Style Malioboro Hadirkan Paket Pernikahan Happily Even After

Previous article

Yogyakarta Jadi Tuan Rumah KONAS PPHI-PGI-PEGI 2026, Satukan Langkah Hadapi Penyakit Pencernaan dan Hati

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health