STARJOGJA.COM, JOGJA— Surya Abon, Terus Bertahan dan Berkembang dengan Menjaga Kualitas Produk. Di tengah lesunya UMKM menghadapi kenaikan harga bahan baku, Surya Home Industry tetap menunjukkan eksistensinya dengan mempertahankan kepercayaan konsumen.
Khenia Dhia Vitreza, salah satu owner Surya Home Industry menjelaskan bahwa Surya Home Industry berdiri sejak tahun 1996 yang dirintis oleh ayahnya dengan modal seadanya. Ia juga membagikan perjalanan Surya Home Industry dari masa merintis hingga sekarang memiliki dua tempat produksi.
Kedua pabrik Surya Home Industry berlokasi di kawasan Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Dari sana, perjalanan pemasaran Surya Abon dimulai dengan cara sederhana.
“Awal mula pemasarannya itu memang benar-benar yang door to door ke swalayan. Kita mendatangi kantornya, menawarkan barang, titip sampel, dan sistemnya konsinyasi.” Ujar Khenia.
Cara pemasaran yang mengandalkan pendekatan langsung ini bukan tanpa tantangan. Khenia yang sejak kecil sudah dilibatkan dalam bisnis keluarga, turut merasakan pahitnya proses tersebut sebelum benar-benar dilepas mengelola bisnis pada 2020.
Tahun 2020 yang identik dengan pukulan berat bagi banyak usaha, justru menjadi momentum tersendiri bagi Surya Home Industry. Saat mahasiswa dilarang keluar kos akibat lockdown, sejumlah gerakan sosial menjadikan abon produksi mereka sebagai bahan pangan utama yang dibagikan kepada mahasiswa perantauan.
“Waktu Covid malah alhamdulillah, Pak. Banyak gerakan-gerakan sosial yang menjadikan abon sebagai supply utama untuk mahasiswa yang di kos,” kata Khenia.
Memasuki masa pasca pandemi, Surya Home Industry memanfaatkan peluang baru dengan memperluas pasar ke segmen produsen dan pabrik roti. Segmen rumah tangga tetap dilayani, namun kini porsi permintaan terbesar datang dari mitra bisnis skala besar tersebut yang mencapai lebih dari 100 kilo.
“Yang paling banyak itu justru permintaan dari produsen roti, pabrik roti, dan katering,” jelas Khenia.
Kenaikan harga bahan baku pada masa sekarang ini menjadi tantangan tersendiri bagi Surya Home Industry, terutama untuk kacang koro dan kacang tolo yang berfungsi menjaga tekstur abon agar tidak gimbal dan tetap mengembang.
Demi menjaga margin tetap sehat di kisaran 20-25% dari harga jual, Surya Home Industry mulai berinovasi mencari bahan substitusi, salah satunya dari bonggol nanas.
“Jadi kita cari formula baru untuk menyesuaikan harga yang menggila ini,” ungkap Khenia.

Khania menambahkan bahwa kualitas tetap menjadi prioritas meski harus melakukan penyesuaian resep. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku tidak menjadi alasan bagi Surya Home Industry untuk menurunkan kualitas melainkan untuk mempertahankan kepercayaan konsumen yang telah dibangun selama ini.
Khania mengungkapkan bahwa Surya Abon menghadirkan tiga varian andalan yaitu original, pedas, dan keju, dengan opsi khusus seperti aroma sereh untuk pesanan pabrik. Meski varian keju kerap mendapat pujian karena rasa gurihnya, namun original tetap menjadi favorit pasar. Sementara dari jenis daging, abon ayam lebih diminati dibanding sapi karena harganya yang lebih ekonomis.
“Produk unggulannya ada varian rasa original dan pedas keju. Tapi tinggi peminatnya masih yang original.” Ucap Khania.
Produk tersedia dalam kemasan plastik berat 50 gram, 90 gram, 125 gram, dan 1 kilogram, serta kemasan kaleng 175 gram, dengan masa simpan hingga satu tahun jika kemasan tertutup rapat.
Bagi yang ingin membeli, Surya Abon bisa ditemukan di berbagai swalayan, marketplace resmi Shopee Abon Surya, maupun akun Instagram @abonsurya_Yogyakarta. Pemesanan dalam jumlah besar dapat menghubungi nomor 085726898732.
Penulis : Khoirul Fitrian Baroroh
Selengkapnya :







Comments