STARJOGJA.COM, Info – Stroke masih menjadi salah satu penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat dan dapat dipicu oleh berbagai faktor risiko yang memengaruhi kondisi pembuluh darah. Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif RSUI, dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), mengingatkan bahwa tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, hingga faktor keturunan menjadi penyebab utama yang meningkatkan risiko stroke.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (20/6/2026), dokter yang akrab disapa Sena itu menjelaskan bahwa stroke merupakan penyakit vaskular yang menyerang pembuluh darah di otak. Karena itu, berbagai gangguan pada sistem pembuluh darah dapat memicu terjadinya stroke.
“Ketika stroke ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat di sana. Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan,” ujar Sena.
Menurutnya, seseorang yang mengalami stroke umumnya juga memiliki masalah kesehatan lain yang sudah terjadi sebelumnya. Oleh sebab itu, penanganan stroke tidak hanya berfokus pada kondisi akut yang dialami pasien, tetapi juga harus memperhatikan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung.
Selain faktor medis, riwayat keluarga juga berperan besar dalam meningkatkan risiko stroke. Sena menyebut berbagai penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke memiliki peluang lebih besar mengalami kondisi serupa.
Ia mengingatkan anak-anak dari keluarga yang memiliki riwayat stroke untuk lebih waspada dengan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini terhadap faktor risiko yang dapat dikendalikan.
Di sisi lain, Sena menilai meningkatnya jumlah kasus stroke saat ini dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumsi makanan ultra-proses, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, hingga tingginya tingkat stres menjadi faktor yang turut memperbesar risiko penyakit pembuluh darah.
Perkembangan teknologi juga dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke karena membuat masyarakat semakin jarang bergerak. Kebiasaan sedentari atau kurang aktivitas fisik tersebut berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang.
Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan dan kemajuan teknologi medis turut membuat lebih banyak kasus stroke terdeteksi dibandingkan beberapa dekade lalu.
Sena menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk menekan risiko stroke, yakni dengan menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, menghindari rokok, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Sumber : Antara






Comments