Lifestyle

Psikolog Ungkap Penyebab Sindrom Pasca-Haji dan Cara Jamaah Menyesuaikan Diri Setelah Pulang

0
jamaah haji Sindrom pasca-haji
jamaah haji di Gunung Arafah (antara)

STARJOGJA.COM, Info – Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa sindrom pasca-haji merupakan kondisi psikologis yang dapat dialami sebagian jamaah setelah kembali dari Tanah Suci. Kondisi ini muncul karena kuatnya pengalaman spiritual, emosional, dan sosial yang dirasakan selama menjalankan ibadah haji maupun umrah.

Menurut Efnie, pengalaman beribadah di Makkah dan Madinah melibatkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari emosi, spiritualitas, hubungan sosial, hingga pencarian makna hidup. Kedekatan dengan Tuhan serta suasana ibadah yang khusyuk menciptakan jejak memori emosional yang kuat di otak, khususnya pada sistem limbik yang mengatur emosi dan hippocampus yang berperan dalam memori.

Saat jamaah kembali ke kehidupan sehari-hari yang penuh tuntutan pekerjaan, kemacetan, masalah keluarga, dan tekanan sosial, otak secara alami membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan di Tanah Suci. Akibatnya, sebagian orang merasakan kerinduan mendalam terhadap suasana ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Gejala sindrom pasca-haji dapat berupa perasaan kehilangan, sering mengenang momen selama berhaji, menangis ketika melihat foto atau video perjalanan ibadah, hingga kesulitan beradaptasi dengan rutinitas sehari-hari yang terasa lebih sibuk dan bising. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai re-entry adjustment, yaitu proses penyesuaian kembali setelah mengalami pengalaman hidup yang sangat bermakna.

Efnie menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami sindrom pasca-haji. Salah satunya adalah tingkat keterlibatan spiritual yang sangat tinggi selama ibadah. Semakin mendalam pengalaman spiritual yang dirasakan, semakin kuat pula ikatan emosional yang terbentuk dengan suasana di Tanah Suci.

Selain itu, individu yang sedang menghadapi tekanan hidup sebelum berangkat haji juga lebih rentan mengalami kondisi ini. Bagi sebagian orang, Tanah Suci menjadi tempat untuk beristirahat secara psikologis dari berbagai persoalan kehidupan. Ketika kembali menghadapi realitas sehari-hari, perbedaan suasana tersebut dapat menimbulkan kontras emosional yang kuat.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah tipe kepribadian yang reflektif dan emosional. Orang yang gemar merenung, memiliki empati tinggi, dan sensitif terhadap pengalaman spiritual cenderung merasakan kerinduan yang lebih mendalam setelah pulang dari haji. Demikian pula mereka yang sedang berada dalam fase pencarian makna hidup akibat kehilangan orang tercinta, penyakit, krisis usia paruh baya, atau perubahan besar dalam kehidupan.

Meski demikian, sindrom pasca-haji bukanlah gangguan psikologis yang berbahaya. Kondisi ini merupakan bentuk respons emosional yang wajar terhadap pengalaman spiritual yang sangat berkesan. Dengan beradaptasi secara bertahap dan mempertahankan nilai-nilai positif yang diperoleh selama ibadah, jamaah dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang dan bermakna.

.

Sumber : Antara

Baca juga : Pakar Ingatkan Jamaah Haji untuk Waspada Heatstroke

Bayu

Etana Kembangkan Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks dan Perkuat Kemandirian Vaksin Nasional

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle