STARJOGJA.COM, Info – Melasma menjadi salah satu gangguan hiperpigmentasi yang paling sering dialami masyarakat, terutama perempuan usia produktif. Kondisi ini ditandai munculnya bercak kecokelatan pada wajah dan dapat dipicu oleh paparan sinar matahari, perubahan hormon, hingga faktor genetik, sehingga membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak mudah kambuh.
“Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Di sisi lain, pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit. Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan Skin Booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid,” jelas dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan.
Melasma paling banyak menyerang perempuan usia reproduktif dan lebih dari 90 persen penderitanya adalah wanita. Masyarakat Indonesia juga termasuk kelompok yang rentan karena mayoritas memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV–V serta tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi sepanjang tahun.
Selain sinar UV, melasma juga dipengaruhi oleh perubahan hormon, faktor keturunan, paparan visible light atau cahaya tampak, serta proses peradangan pada kulit. Kondisi tersebut menyebabkan produksi melanin meningkat sehingga bercak gelap di wajah lebih sulit memudar jika tidak ditangani dengan benar.
“Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam praktik sehari-hari, saya mengombinasikan redermalisasi menggunakan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factors untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi sel. Terapi ini perlu diimbangi dengan penggunaan sunscreen setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan,” ungkap dokter estetika dr. Ratna Yuliarviana.
Melasma umumnya muncul di area wajah yang sering terpapar sinar matahari, seperti pipi, dahi, hidung, dan atas bibir. Selain memengaruhi penampilan, kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan mental karena banyak penderita mengalami penurunan rasa percaya diri, stres emosional, hingga enggan berinteraksi secara sosial.
Penanganan melasma tidak cukup hanya dengan menggunakan produk perawatan kulit secara mandiri. Diagnosis yang tepat oleh dokter menjadi langkah awal untuk menentukan terapi yang sesuai, termasuk tindakan redermalisasi yang dapat dikombinasikan dengan growth factors guna membantu regenerasi kulit dan memudarkan hiperpigmentasi.
Selain menjalani perawatan di klinik, penggunaan tabir surya (sunscreen) setiap hari dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi menjadi bagian penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV sekaligus mengurangi risiko melasma muncul kembali.
Sumber : Antara
Baca juga : Mengenal Apa Itu Si Bercak Hitam Melasma






Comments