STARJOGJA.COM, Info – Ratusan anak muda di Seoul, Korea Selatan, mengikuti lomba tidur siang di tepi Sungai Han pada akhir pekan lalu. Kegiatan unik ini digelar pemerintah setempat sebagai ajang yang kini memasuki tahun ketiga.
“Saya benar-benar kelelahan, karena sering bekerja shift malam di samping pergi bekerja setiap hari, ditambah saya juga banyak mengemudi untuk pekerjaan. Jadi ketika saya melihat kontes itu, saya bertekad untuk tidur agar bisa mengisi ulang energi sepenuhnya di tengah semilir angin sungai, dan saya sangat senang bisa meraih juara kedua, untungnya,” Kata Hwang Du Seong, pekerja kantoran berusia 37 tahun, dikutip dari The Independent, Senin (4/5/2026)
Para peserta datang dengan berbagai kostum unik, mulai dari karakter dongeng hingga pakaian santai. Mereka mengikuti kompetisi dengan latar belakang berbeda, termasuk kelelahan akibat aktivitas kerja tambahan atau side hustle.
Side hustle memang telah menjadi fenomena global dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak orang mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama, baik karena tuntutan ekonomi, gaya hidup, maupun keinginan untuk mengejar minat pribadi.
Fenomena ini dinilai membawa dampak serius jika dilakukan dengan durasi kerja berlebihan. Pola kerja panjang tanpa istirahat cukup berpotensi mengganggu kesehatan fisik dan mental.
“Hal ini terjadi akibat aktivasi kronis sistem saraf simpatis, peningkatan katekolamin, hipertensi persisten, disfungsi endotel, serta inflamasi sistemik,” katanya.
Pakar kesehatan menyebut jam kerja ekstrem dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke dan gangguan jantung. Selain itu, kondisi ini juga berkaitan dengan gangguan metabolik hingga risiko diabetes tipe 2.
Selain itu, terdapat risiko gangguan metabolik, seperti resistensi insulin yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya diabetes tipe 2.
Dampak lain juga terlihat pada kesehatan mental, seperti munculnya burnout hingga penurunan fungsi kognitif. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan produktivitas seseorang.
“Selain itu, terdapat peningkatan risiko kecelakaan kerja akibat kelelahan, seperti microsleep dan penurunan refleks. Hal ini sangat sering ditemukan pada pekerja dengan beban kerja berlebih atau multi-job,” imbuhnya.
Para ahli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara waktu kerja dan istirahat. Pola kerja yang teratur dinilai mampu menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan produktivitas.
Dicky menegaskan bahwa sistem kerja yang sehat seharusnya memiliki batasan waktu yang jelas. Salah satunya dengan mengakhiri jam kerja tepat waktu, misalnya pukul 17.00 tanpa tambahan rapat, disertai jeda istirahat rutin setiap satu jam untuk bergerak sejenak, serta pengaturan waktu makan yang teratur.
Sumber : Bisnis
Baca juga : Stres Akut Banyak Dialami Jemaah Haji Sejak Gelombang Pertama







Comments