News

Suara Perempuan di Ruang Digital, DP3AP2 DIY Dorong Literasi untuk Tekan Kesenjangan dan Risiko Siber 

0
DP3AP2 DIY
Naresthi Primasari, S.IP Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM) Muda DP3AP2 DIY dipanggil resti Dr. Diah Ajeng Purwani, S.Sos, M.Si Dosen Media dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (starfm)
 STARJOGJA.COM, Info – Transformasi digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk bersuara dan berdaya. Namun di balik itu, kesenjangan akses dan literasi digital masih menjadi tantangan serius, termasuk meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender online. Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM) Muda DP3AP2 DIY, Naresthi Primasari, S.IP menegaskan, kesenjangan digital di kalangan perempuan DIY masih nyata, baik dari sisi akses, kepemilikan perangkat, hingga literasi.
“Akses-akses itu tidak semua perempuan memiliki akses yang sama. Ada faktor geografis, kepemilikan perangkat, dan literasi digital yang masih ada kesenjangan antara perempuan dan laki-laki,” ujar Resti dalam talkshow “Your Voice Matter: Digital Divide dan Literasi Digital Jumat (27 Februari 2026.
Resti menambahkan, pemanfaatan teknologi juga belum optimal, terutama bagi pelaku UMKM mikro.
“Penggunaan itu masih sebatas chat atau hiburan, belum sampai menggunakan untuk penggerakan ekonomi bagi mereka,” kata Resti.
Dari perspektif gender, rendahnya literasi digital berpotensi memicu persoalan baru, salah satunya kekerasan berbasis gender online (KBGO). Resti menyebut, kasus-kasus kekerasan berbasis siber banyak menimpa perempuan dan anak karena belum dibarengi pemahaman etika dan keamanan digital. Selain itu, faktor pendidikan, ekonomi, beban domestik, hingga relasi kuasa turut memengaruhi kesenjangan.
“Teknologi digital itu sering dianggap lebih maskulin, lebih untuk laki-laki. Itu juga memengaruhi,” ungkapnya.
Menjawab tantangan tersebut, DP3AP2 DIY menjalankan berbagai program literasi digital melalui pelatihan, sosialisasi langsung, webinar, hingga pendampingan kelompok ekonomi produktif seperti Desa Prima.
“Sekarang pemberdayaan bukan dari tidak berdaya menjadi berdaya, tapi peningkatan kapasitas,” tegas Resti.
Sementara itu, Dosen Media dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Dr. Diah Ajeng Purwani, S.Sos., M.Si menyoroti pentingnya strategi komunikasi dalam literasi digital. Menurutnya, persoalan bukan pada program yang tidak baik, melainkan cara penyampaiannya yang belum tepat sasaran.
“Programnya bagus-bagus, tapi how to communicate-nya kadang belum pas. Pesannya bagus, cara mengkomunikasikannya tidak pas, akhirnya tidak masuk,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan peer education atau edukasi sebaya, terutama di kalangan generasi muda. Dengan pendekatan yang sesuai usia dan konteks audiens, ruang digital dapat menjadi sarana pemberdayaan, bukan sekadar ruang konsumsi konten.
“Bisa enggak sih ruang digital itu menjadi sarana membangun kesadaran, bukan sekadar tempat menghabiskan waktu?” ujarnya.
Talkshow ini menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi, melainkan kemampuan memahami, mengelola, dan memanfaatkan teknologi secara bijak. Sinergi pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkecil digital divide dan mendorong perempuan menjadi kreator serta penggerak ekonomi digital.
Bayu

Penelitian Terbaru dari China Diagnosis Parkinson lewat Rambut

Previous article

Xiaomi Indonesia Rilis Ponsel Murah Rp1 Jutaan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News