HealthLifestyle

Penelitian Terbaru dari China Diagnosis Parkinson lewat Rambut

0
Parkinson
Parkinson /kemenkes

STARJOGJA.COM, Info – Peneliti dari China meneliti 60 pasien dan menemukan perbedaan kandungan mineral pada rambut pasien Parkinson dan membandingkannya dengan orang yang sehat dan seusia. Temuan ini adalah biomarker Parkinson yang mempermudah diagnosis penyakit yang selama ini cukup menantang secara medis.

 

Hasilnya menunjukkan kadar zat besi dan tembaga pada rambut pasien Parkinson lebih rendah, sementara mangan dan arsenik justru lebih tinggi. Penelitian yang dipimpin Ming Li, Biologist dari Hebei University, menyebut temuan ini memiliki potensi besar untuk membantu deteksi dini Parkinson dan menjadi alternatif diagnosis yang lebih mudah serta noninvasif dibandingkan metode medis lainnya.

 

“Potensi diagnostik yang tinggi untuk penyakit Parkinson,” tulis peneliti dalam pre-proof paper yang dikutip dalam Science Alert, Rabu (25/2/2026).

 

Selama ini, diagnosis Parkinson masih menjadi tantangan karena belum ada cara sederhana yang benar-benar akurat. Beberapa biomarker berbasis darah memang mulai dikembangkan, tetapi rambut menawarkan keunggulan karena mampu menyimpan jejak kesehatan dalam jangka waktu lebih panjang dibandingkan cairan tubuh lain.

 

Rambut diketahui dapat menyerap paparan logam berat dari makanan maupun lingkungan sekitar. Berbeda dengan air liur, keringat, darah, urin, atau feses, rambut dapat menyimpan catatan kesehatan lebih lama sehingga bisa membantu melihat pola kesehatan kronis seseorang.

 

Penyebab pasti Parkinson hingga kini masih belum sepenuhnya diketahui, tetapi sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan penyakit ini dengan ketidakseimbangan bakteri usus dan pola makan tidak sehat. Konsumsi makanan olahan berlebihan serta paparan polusi lingkungan, seperti pestisida, juga diduga berperan dalam perkembangan penyakit neurodegeneratif ini.

 

Peneliti juga melakukan uji tambahan menggunakan model tikus untuk memperkuat temuan. Hasilnya menunjukkan tikus dengan gejala Parkinson memiliki kadar zat besi lebih rendah pada rambut, yang berkaitan dengan gangguan fungsi usus dan penyerapan zat besi dalam tubuh.

 

Pada hewan uji, lapisan pelindung usus terlihat mengalami gangguan dan tidak bekerja secara optimal. Aktivitas gen yang berperan dalam penyerapan zat besi menurun, sementara gen yang membantu mikroba usus dalam mengambil zat besi justru meningkat, yang diduga memicu kekurangan zat besi secara menyeluruh dalam tubuh.

 

Pada pasien Parkinson manusia, perubahan bakteri usus bahkan dapat muncul bertahun-tahun sebelum diagnosis ditegakkan. Para ilmuwan menduga ada komunikasi erat antara usus dan otak dalam perkembangan penyakit neurologis ini, sehingga rambut mungkin menyimpan jejak perubahan metabolisme tubuh secara perlahan.

 

Dalam penelitian ini, penurunan zat besi pada rambut menjadi temuan yang paling konsisten dan mencolok. Peneliti menilai hubungan antara mikrobioma usus dan gen metabolisme zat besi menjadi bukti awal bahwa kedua sistem tersebut saling berkaitan dalam perkembangan Parkinson. Tim peneliti menilai adanya hubungan antara mikrobioma usus dan gen metabolisme zat besi menunjukkan bahwa perubahan pada sistem pencernaan dan metabolisme tubuh dapat saling mempengaruhi.

 

“Bukti konsep dasar bahwa sistem-sistem tersebut saling berkaitan dalam konteks kondisi yang menyerupai patologi penyakit Parkinson,” tulis tim peneliti.

 

Selain itu, kadar arsenik yang meningkat dalam rambut pasien juga menjadi perhatian. Hal ini diduga berkaitan dengan paparan lingkungan, termasuk pola makan pasien yang dilaporkan lebih sering mengkonsumsi jeroan dan makanan laut yang berpotensi mengandung arsenik.

 

 

Peneliti menyimpulkan bahwa penurunan kadar zat besi pada rambut diduga berkaitan dengan gangguan fungsi pencernaan pada pasien Parkinson serta ketidakseimbangan mikrobiota usus yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti yang juga ditemukan dalam berbagai penelitian sebelumnya.

 

“Dengan menggabungkan seluruh hasil penelitian, penurunan kadar zat besi pada rambut diduga berkaitan dengan gangguan fungsi saluran pencernaan pada pasien Parkinson, serta ketidakseimbangan mikrobiota usus yang menunjukkan peningkatan kemampuan menyerap zat besi,” tulis peneliti dalam kesimpulan studi.

 

 

Temuan ini mendukung penelitian tahun 2025 yang menunjukkan adanya gangguan regulasi zat besi pada otak, darah, dan usus pasien Parkinson. Meski demikian, penelitian masih dalam tahap awal dan membutuhkan studi lebih besar untuk memastikan pola tersebut benar-benar dapat digunakan sebagai alat diagnosis medis.

 

Penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar masih diperlukan untuk memahami hubungan antara kekurangan zat besi dan Parkinson, yang berpotensi membuka peluang diagnosis dini melalui pemeriksaan rambut di masa depan.

 

 

Sumber : Bisnis

Baca juga : Awas! Pria Kurang Tidur Berisiko Tinggi Parkinson

Bayu

Melihat Hubungan Manusia dengan Hewan dalam Film Animasi Hoppers Tayang 4 Maret

Previous article

Suara Perempuan di Ruang Digital, DP3AP2 DIY Dorong Literasi untuk Tekan Kesenjangan dan Risiko Siber 

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Health