Lifestyle

Mastitis Bisa Berulang, Dokter Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahnya Sejak Masa Kehamilan

0
mencium bayi menyusui payudara
Ilustrasi Bayi
STARJOGJA.COM, Info – Mastitis atau peradangan jaringan payudara dapat terjadi berulang pada ibu menyusui apabila pengosongan ASI tidak dilakukan secara optimal. Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh pelekatan bayi yang kurang tepat, jadwal menyusui yang tidak teratur, hingga daya tahan tubuh ibu yang menurun.
Hal itu disampaikan dokter konselor laktasi dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (4/8/2026). Menurutnya, mastitis menjadi salah satu masalah yang paling sering dialami ibu pada masa awal menyusui.
“Jadi mastitis bisa berulang itu salah satu penyebabnya karena pengosongan isi payudara yang tidak sempurna,” kata Anastasia.
Ia menjelaskan, pengosongan payudara yang tidak maksimal dapat disebabkan oleh posisi pelekatan bayi saat menyusui yang kurang tepat. Kondisi tersebut dapat menimbulkan luka pada payudara sehingga menjadi pintu masuk bakteri penyebab infeksi.
Selain itu, perubahan jadwal menyusui atau memompa ASI juga dapat menyebabkan penumpukan ASI yang memicu pembengkakan pada jaringan payudara.
“Jadi, yang awalnya seharusnya tiap 2 sampai 3 jam, tiba-tiba terlewat satu sesi menyusuinya. Jadi lebih jauh jedanya, 4 sampai 6 jam begitu, dia (ASI) akan menumpuk dan menyebabkan bengkak,” ujarnya.
Anastasia menambahkan, penurunan sistem kekebalan tubuh turut meningkatkan risiko ibu menyusui mengalami infeksi payudara. Mastitis paling sering terjadi pada satu hingga dua bulan pertama setelah persalinan, saat ibu dan bayi masih dalam proses beradaptasi dengan teknik menyusui yang benar.
Ia juga mengingatkan agar ibu dan keluarga tidak panik apabila produksi ASI belum lancar pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Menurutnya, ASI umumnya mulai keluar secara optimal pada hari keempat atau kelima, sementara bayi masih memiliki cadangan nutrisi pada tiga hari pertama kehidupannya.
Untuk mencegah mastitis, Anastasia menyarankan ibu hamil mengikuti kelas prenatal di poliklinik laktasi saat usia kehamilan memasuki 36 minggu. Melalui kelas tersebut, calon ibu dapat mempelajari teknik menyusui yang benar sekaligus praktik dengan pendampingan tenaga kesehatan.
“Kita bekali dulu dengan ilmu laktasinya, praktiknya sambil didampingi. Itu pasti membantu banget untuk mengurangi risiko masalah-masalah kedepannya,” jelasnya.
Selain edukasi, dukungan dari keluarga juga dinilai berperan penting dalam membantu ibu menjalani masa menyusui dengan nyaman.
Anastasia menjelaskan, gejala mastitis meliputi pembengkakan dan kemerahan pada salah satu sisi payudara, nyeri saat menyusui, serta demam, meriang, hingga menggigil. Pada tahap awal, ibu dapat mengatasi keluhan tersebut dengan mengonsumsi obat pereda nyeri dan mengompres payudara menggunakan air dingin.
Namun, apabila gejala tidak membaik dalam waktu 24 hingga 48 jam atau muncul benjolan yang semakin besar dan terasa berisi cairan, ibu disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena kondisi tersebut dapat mengarah pada abses payudara.
“Kalau 24 sampai 48 jam setelahnya tidak membaik, malah terjadi benjolan yang lebih besar, yang jika ditekan kok seperti ada cairan, dan lebih nyeri lagi, kita baru curiga ke arah abses,” kata Anastasia.
“Kalau sudah terjadi abses, ada dua kemungkinan. Dengan antibiotik diganti, adakah perubahan, perbaikan? Kalau tidak ada, ada kemungkinan harus dirujuk ke spesialis bedah di-ultrasound, USG,” pungkasnya.
Sumber : Antara
Bayu

Yura Yunita Temukan Ruang Eksplorasi Baru di Pagelaran Sabang Merauke 2026

Previous article

Ajax Pinjam Marc-Andre ter Stegen dari Barcelona untuk Semusim

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle