EsaiNews

Tenaga Pendamping Profesional Berpikir Layaknya Kontra Intelijen, Upaya Mitigasi Risiko dalam Berdesa

0
Tenaga Pendamping Profesional
Tenaga Pendamping Profesional (lesandi)
STARJOGJA.COM, Info – Di tengah derasnya dana desa dan semangat membangun ekonomi kerakyatan, ada satu pekerjaan rumah yang jarang dibicarakan lantang: bagaimana memastikan desa tidak dimakan oleh kesalahannya sendiri. Di titik inilah peran Tenaga Pendamping Profesional, atau TPP, diuji. Bukan lagi sekadar menjadi fasilitator yang ramah, bukan hanya edukator yang sabar, tetapi harus naik kelas menjadi “penjaga gawang” yang berpikir seperti kontra intelijen.
Bagi sebagian orang, istilah “kontra intelijen” terdengar berat dan jauh dari urusan desa. Padahal esensinya sederhana: kemampuan membaca potensi ancaman sebelum ia menjadi krisis, memetakan celah sebelum dimanfaatkan, dan melindungi aset desa dari pembajakan kepentingan, baik internal maupun eksternal.
Di era Bumdesa dan KDKMP atau Koperasi Desa Merah Putih menjadi lokomotif baru, mindset ini bukan kemewahan. Ia kebutuhan dasar.
1. Desa Kini Bukan Lagi Desa 15 Tahun Lalu
Arus dana, proyek, dan ambisi ekonomi telah mengubah desa. Bumdesa hari ini mengelola ratusan juta hingga miliaran rupiah. KOPDES Merah Putih diberi mandat sebagai simpul logistik, simpan pinjam, hingga rantai pasok. Semakin besar uang yang berputar, semakin besar pula tarikannya.
Risikonya klasik tapi mematikan: konflik internal pengurus, intervensi oknum, pembukuan fiktif, proyek titipan, hingga narasi adu domba antar kelompok. Jika TPP hanya datang untuk mengisi form dan memberi pelatihan teknis, maka kita sedang membiarkan bom waktu.
Di sinilah kontra intelijen masuk. Bukan untuk memata-matai warga, tetapi untuk membaca pola. Siapa yang tiba-tiba terlalu aktif mengatur tender? Kenapa laporan keuangan selalu telat saat musim panen? Mengapa ada pihak luar yang sangat “peduli” pada RAB Bumdesa?
2. Tiga Pilar Kerja TPP ala Kontra Intelijen
Pertama, Positioning. TPP harus berdiri di tengah, bukan di pangkuan.
Netralitas adalah tameng pertama. TPP yang terjebak dalam politik kekerabatan atau kepentingan kelompok akan kehilangan kredibilitas. Begitu kredibilitas runtuh, semua edukasi dan advokasi tidak akan didengar.
Kedua, Deteksi Dini.
Kontra intelijen mengajarkan prinsip “ know your ground ”. TPP harus paham peta sosial, peta ekonomi, dan peta konflik desa dampingannya. Siapa tokoh bayangan, di mana titik rawan mark up, bagaimana skema pinjaman gelap bisa masuk lewat KOPDES. Tanpa peta ini, TPP akan selalu terlambat memadamkan api.
Ketiga, Mitigasi dan Edukasi Preventif.
Bukan menunggu kasus baru bergerak. TPP harus membangun budaya transparansi sejak awal: pembukuan terbuka, mekanisme kontrol sosial, dan literasi hukum bagi pengurus Bumdesa dan KOPDES. Advokasi di sini bukan membela saat sudah kena masalah, tapi membangun sistem agar masalah tidak lahir.
3. Mengapa Ini Mendesak?
Karena satu kesalahan tata kelola di Bumdesa bisa melumpuhkan 5 tahun program desa. Karena satu KOPDES yang kolaps bisa membuat kepercayaan warga pada negara turun drastis. Kita tidak sedang bicara soal rugi uang saja, kita bicara soal runtuhnya kepercayaan.
Pemerintah sudah memberi kendaraan. Dana sudah ada. Aturannya sudah ada. Yang menentukan kendaraan itu sampai tujuan atau masuk jurang adalah sopir dan navigatornya. TPP adalah navigator itu.
“Menurut analisa sosio faktual yang dilakukan oleh Lesandi Utomo selaku Korcam TPP P3MD Kapanewon Pengasih, tanpa mindset kontra intelijen, TPP akan selalu berada dalam posisi reaktif. Padahal risiko di desa bergerak cepat dan senyap. TPP harus mampu membaca gejala, memutus mata rantai potensi penyimpangan, dan menjaga Bumdesa serta KOPDES agar tidak menjadi bancakan kepentingan,” tegasnya.
Pernyataan itu bukan pesimisme. Itu adalah tamparan sadar agar kita tidak menutup mata.
4. Dari Fasilitator Menjadi Benteng.
Bayangkan TPP sebagai sistem imun desa. Ketika ada virus korupsi, nepotisme, atau konflik kepentingan masuk, sistem imun yang kuat akan langsung merespon. Sistem imun yang lemah akan membiarkan infeksi menyebar.
Untuk itu TPP perlu tiga hal: keberanian untuk berkata “tidak” pada praktik menyimpang, kecerdasan untuk membaca situasi, dan keterampilan untuk mengubahnya menjadi edukasi. Kontra intelijen di sini bukan soal operasi rahasia. Ia adalah disiplin berpikir: curiga secara sehat, verifikasi secara sistematis, dan bertindak secara prosedural.
Penutup: Taruhannya Adalah Masa Depan Desa
Program Bumdesa dan KOPDES adalah taruhan besar negara pada kemandirian desa. Jika gagal, yang dirugikan bukan hanya APBDes. Yang dirugikan adalah 80 ribu desa yang sedang belajar berdiri di atas kaki sendiri.
TPP tidak bisa lagi bekerja dengan mindset “yang penting kegiatan jalan”. TPP hari ini harus berpikir seperti kontra intelijen: waspada, terukur, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang desa.
Karena di ujungnya, pendampingan bukan hanya soal membantu desa tumbuh. Pendampingan adalah soal memastikan desa tidak jatuh saat sedang naik.
Penulis : Lesandi Utomo Korcam TPP Kap.Pengasih,  Kulon Progo
Bayu

Renaisansi Coffee and Theotraphi, Bookcafe Bernuansa Filsafat untuk Pecinta Kopi dan Literasi

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Esai