Lifestyle

Dokter Ingatkan Terapi Hormon Pertumbuhan Anak Harus Berdasarkan Diagnosis Medis

0
literasi digital pertumbuhan anak
literasi digital ke anak sangat penting (antara)
STARJOGJA.COM, Info – Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.), menegaskan terapi hormon pertumbuhan pada anak tidak boleh diberikan hanya untuk menambah tinggi badan. Pemberian terapi harus didasarkan pada diagnosis medis yang jelas sesuai penyebab gangguan pertumbuhan.
Dalam temu media secara daring, Rabu (22/7/2026), Prof. Aman mengatakan penanganan gangguan pertumbuhan sebaiknya dilakukan sedini mungkin agar anak memiliki peluang lebih besar mencapai potensi tumbuh kembangnya.
“Kalau memang ada gangguan pertumbuhan dan bisa diterapi, tentu anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan potensinya,” kata Prof. Aman.
Menurutnya, tinggi badan anak masih dapat bertambah hingga usia sekitar 17–18 tahun, terutama pada anak yang mengalami keterlambatan pubertas. Ia mencontohkan pesepak bola muda Lamine Yamal yang masih berpotensi mengalami pertumbuhan tinggi badan pada usia 17 tahun.
Prof. Aman menjelaskan, terapi hormon pertumbuhan hanya diberikan kepada anak yang memang didiagnosis mengalami gangguan pertumbuhan sesuai indikasi medis. Karena itu, pemeriksaan untuk mengetahui penyebab utama menjadi langkah paling penting sebelum menentukan terapi.
“Yang terpenting adalah diagnosis. Begitu penyebabnya diketahui, terapinya bisa diberikan sesuai kondisi anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, tidak semua anak dengan tubuh pendek memerlukan terapi hormon pertumbuhan. Penanganan akan disesuaikan dengan penyebab gangguan yang dialami masing-masing anak.
Sebagai contoh, anak dengan gangguan hormon tiroid memerlukan terapi hormon tiroid, anak yang mengalami kelainan tulang akan mendapatkan terapi untuk memperkuat tulang, sedangkan remaja dengan keterlambatan pubertas dapat menjalani terapi hormon reproduksi sesuai indikasi medis.
Prof. Aman juga mengingatkan bahwa tubuh pendek tidak selalu disebabkan oleh kekurangan gizi. Gangguan hormon maupun kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi pertumbuhan anak sehingga diperlukan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter.
Selain itu, ia mengimbau orang tua tidak memberikan makanan berkalori dan berprotein tinggi secara berlebihan dengan harapan anak menjadi lebih tinggi. Kebiasaan tersebut justru berisiko menyebabkan kelebihan berat badan hingga obesitas yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.
Sumber : Antara
Bayu

Perkuat Komitmen Cegah Stunting, Sarihusada Luncurkan Program Si Penting di Yogyakarta

Previous article

Gandos Bu Paerah, Makanan Tradisional yang Tetap Eksis di Tengah Perkembangan Zaman

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle