STARJOGJA.COM, JOGJA— Skitbutan Jogja memiliki cara yang unik dan inspiratif dalam mendefinisikan ulang makna olahraga ekstrem skateboard di tengah Masyarakat. Alih-alih mengejar kompetisi atau trik-trik udara yang rumit, mereka justru memilih skateboard sebagai media untuk merayakan kebersamaan, kesehatan, dan kebebasan.
“Sebenarnya bukan komunitas ya, tapi kayak circle pertemanan gitu. Awalnya pas pandemi momennya, kita lagi butuh olahraga sambil nyantai yang praktis dan portable. Akhirnya muncullah ide pakai skateboard,” Jelas Pai sebagai anggota komunitas tersebut.
Mengenai nama, “Skitbutan” sendiri lahir dari hal yang sangat personal dan hangat antara bapak dengan anak. Nama berlogo dinosaurus pink ini berawal dari candaan antara Pai dan anaknya saat pertama kali bermain bersama.
Aktivitas ini awalnya digerakkan oleh empat orang, hingga akhirnya berkembang dan merekrut anggota lain termasuk Aldi, seorang skater senior yang sudah aktif sejak tahun 2000-an.
Skitbutan Jogja mengusung konsep ramah pemula sehingga berhasil menarik banyak peserta yang baru ingin mencoba surf skate atau longboard. Uniknya, sebagian besar pemula tersebut berusia 40 tahun ke atas dan mengikuti aktivitas ini untuk bersenang-senang serta melatih kardio tanpa merasa terbebani oleh batasan usia.
“Jadi banyak pemula itu usianya di atas 40 tahun yang kaya eh asik ya ini bisa fun banget kaya gitu. Walopun ini memang basicnya olahraga ekstrem tapi ya kita bisa fun gitu dan ada jenis-jenis permainan yang nggak ekstrem gitu.” Ujar Pai.
Komunitas ini juga kerap mengulik papan-papan anomali, bahkan pernah sukses memodifikasi gagang sapu menjadi papan skateboard fungsional yang bisa dikendarai. Lewat aksi ini, Skitbutan Jogja ingin mematahkan stigma lama yang menilai keren seorang skater hanya dari alat yang mahal.
Aldi, anggota senior di Skitbutan, mengungkapkan kunci utama untuk tetap bertahan dan menikmati skateboard bermula dari rasa percaya diri dan memiliki lingkungan yang tepat.
“Intinya langsung main aja, enggak usah dengerin siapa-siapa, enggak usah takut di-judge. Jadi diri sendiri aja, yang penting fun. Dan buat pemula, sebaiknya bikin circle yang sefrekuensi untuk saling support,” ungkap Aldi.
Pai juga menceritakan bagaimana kepuasan batin muncul ketika kehadiran mereka bisa membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Melalui pembuatan konten skateboard yang kreatif, Skitbutan secara sukarela membantu mempromosikan berbagai produk UMKM teman-teman mereka hingga akhirnya kini mereka sendiri banyak dipercaya oleh berbagai brand lokal.
“Awalnya tuh support teman-teman yang punya UMKM gitu loh, kita bikinin konten-konten ala skateboarder. Nah, itu ternyata bisa jadi magnet brand lain kaya endorsan macam-macam gitu” Ujar Pai.
Hingga saat ini, gerakan Skitbutan terus menggelinding di berbagai sudut aspal dan skatepark Jogja, mulai dari wilayah selatan di PASTI dan Paseban Bantul, area kota di Taman Pintar, hingga sisi utara di Sleman. Manajemen circle yang solid ini membawa mereka bersiap melangkah lebih jauh dengan merencanakan sebuah Skate Camp skala besar di kawasan Borobudur pada akhir tahun 2026 nanti.
Baca juga: Mengenal Permainan Tradisional Bersama Komunitas Kampoeng Hompimpa
Penulis: Ulima Fauzia Elisa







Comments