STARJOGJA.COM, Info – Yogyakarta Urban Theatre Festival (YUTFest) 2026 kembali digelar sebagai ruang ekspresi seni sekaligus pembacaan dinamika kota. Festival ini berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di Taman Budaya Yogyakarta dengan melibatkan enam kelompok teater terpilih.
“Dengan jumlah kelompok yang tampil lebih terkurasi, apresiasi penonton bisa lebih maksimal. Konsentrasi dalam menikmati pertunjukan juga lebih terjaga sehingga penonton leluasa menafsirkan karya teater tahun 2026,” ujarnya di TBY pada Selasa (5/5/2026).
Penyelenggaraan tahun ini dirancang lebih fokus agar penonton dapat menikmati karya secara lebih mendalam. TBY juga membuka diri terhadap kritik dan masukan untuk menyesuaikan pola apresiasi seni yang terus berkembang.
“Pembinaan dan pelestarian tidak harus berhenti pada pakem lama tanpa melihat perkembangan zaman. Yang terpenting, karya yang dihadirkan tetap memberi manfaat dan relevan bagi masyarakat,” katanya.
Tema “urban” dalam YUTFest dimaknai sebagai cara membaca dinamika sosial Yogyakarta melalui teater. Perspektif ini menempatkan kota sebagai ruang interaksi yang terus berubah.
“Urban menjadi perspektif untuk melihat Jogja hari ini. Kelompok-kelompok teater di DIY, baik yang tumbuh di kota maupun desa, memiliki cara masing-masing dalam merespons perubahan sosial,” katanya.
Proses seleksi festival dilakukan melalui mekanisme terbuka dengan puluhan proposal yang masuk. Tahapan kurasi menghasilkan kelompok terpilih yang siap menampilkan karya terbaiknya.
“Kelompok yang terlibat beragam, mulai dari teater kampus, komunitas kampung, sanggar, hingga profesional. Mereka mengusung berbagai genre, seperti kolaborasi pedalangan dengan teater dan tari hingga teater dokumenter,” katanya.
YUTFest juga menjadi ruang eksplorasi gagasan kreatif bagi kelompok teater. Festival ini mendorong lahirnya ide-ide baru yang relevan dengan isu sosial.
“Taman Budaya berupaya menjadi ruang terbuka bagi eksplorasi ide. Kami berharap kelompok teater menghadirkan gagasan yang menggelitik, bahkan yang berpotensi memunculkan konflik sebagai bagian dari dinamika kreatif,” ujarnya.
Teater dipandang sebagai medium penting dalam membangun dialog sosial di tengah perkembangan kota. Selain sebagai seni pertunjukan, teater juga menjadi sarana negosiasi nilai dalam masyarakat.
“Teater bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga instrumen yang membantu mengoordinasikan dan mengeksplorasi ikatan sosial masyarakat. Di sinilah teater menjadi arena produktif bagi gagasan dan dialog,” jelasnya.
Enam kelompok teater akan tampil dalam rangkaian festival selama tiga hari. Pertunjukan ini menjadi refleksi perkembangan kota melalui pendekatan artistik masing-masing kelompok.
Keenam kelompok tersebut Teater Seriboe Djendela & Sanggar Ori Gunung Kidul akan pentas pada Tanggal 6 Mei 2026. Sementara Emprit Sett Panggung & Serbet Budaya akan bermain pada Tanggal 7 Mei 2026. Mendak Creative & Hurung Nemu akan tampil pada Tanggal 8 Mei 2026.







Comments