Lifestyle

Ledakan Ikan Sapu-Sapu di Sungai Tercemar, Dosen UNAIR Ungkap Ancaman Ekologis

0
ikan sapu-sapu
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) menangkap ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung, Matraman, Jakarta, Senin (20/4/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin

STARJOGJA.COM, Info – Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai tercemar menjadi perhatian serius kalangan akademisi. Kondisi ini dinilai sebagai alarm kerusakan ekosistem perairan, terutama di wilayah perkotaan.

“Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Veryl, Senin (20/4/2026).

Ikan sapu-sapu diketahui mampu bertahan di lingkungan dengan kualitas air yang buruk. Hal ini membuat spesies tersebut mendominasi perairan yang telah tercemar.

Ia menjelaskan, pada sungai dengan kualitas air yang rusak, banyak ikan lokal tidak mampu bertahan hidup. Sebaliknya, ikan sapu-sapu justru tetap hidup dan berkembang pesat.

Spesies ini berasal dari Amerika Selatan dan awalnya merupakan ikan yang umum dikonsumsi di habitat aslinya. Namun, masalah muncul ketika ikan tersebut masuk ke perairan Indonesia sebagai spesies asing.

“Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu-sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti,” jelasnya.

Selain tahan terhadap kondisi ekstrem, ikan sapu-sapu juga memiliki sifat sebagai predator oportunis. Mereka memanfaatkan berbagai sumber makanan yang tersedia di sungai.

Selain tahan terhadap lingkungan buruk, ikan sapu-sapu juga dikenal sebagai predator oportunis. Ikan ini memanfaatkan hampir seluruh sumber daya yang tersedia di sungai.

Keberadaan ikan ini memperberat persaingan bagi ikan lokal dalam mendapatkan makanan dan ruang hidup. Dampaknya, keseimbangan ekosistem menjadi terganggu.

Kehadirannya membuat persaingan semakin berat bagi ikan lokal dalam memperoleh makanan maupun ruang hidup.

Untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan penegakan regulasi yang lebih tegas terkait pelepasan ikan asing ke perairan. Pengawasan di lapangan menjadi kunci agar aturan dapat berjalan efektif.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Veryl menekankan pentingnya penegakan regulasi terkait larangan pelepasan ikan asing ke sungai.

Selain regulasi, upaya pemulihan kualitas air sungai juga menjadi langkah penting. Perbaikan habitat akan membantu mengembalikan keseimbangan ekosistem.

“Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu-sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tuturnya.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah pemberantasan secara manual dan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar tidak melepas ikan ke alam bebas.

“Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai,” pungkasnya.

Sumber : UNAIR

Baca juga : Penjelasan Kemenkes Soal Siomai Berbahan Ikan Sapu-sapu

Bayu

Paviliun Raden Saleh TIM Resmi Dibuka, Gabungkan Hotel dan Ruang Seni

Previous article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lifestyle