STARJOGJA.COM, Info – Sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah berdiskusi tentang film terbaru mereka, “Empat Musim Pertiwi” (Four Seasons in Java), di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026, Jumat (30/10/2026). Usai pemutaran, Kamila berterima kasih kepada penonton atas film yang ia anggap istimewa.
“Ini salah satu film yang mungkin paing sulit yang pernah saya buat. Jadi terima kasih sudah datang dan berdiskusi soal topik ini,” kata putri sutradara Garin Nugroho itu dalam bahasa Inggris.
Film ini menjadi bagian program CROSSCUT ASIA+, inisiatif TIFF dan Japan Foundation, dengan tema Side by Side yang dikurasi programmer Raslene dari Indonesia dan Ueda Masayuki dari Jepang. Dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim, ceritanya mengikuti Pertiwi yang pulang ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara panjang dan mencari cara kembali menjalani hidup bersama orang-orang yang juga tersisih.
Menjawab rasa penasaran penonton soal monster, Kamila menjelaskan bahwa sosok misterius itu simbol trauma penyintas kekerasan seksual yang mengendap setelah kejadian dan hanya bisa dilihat sesama penyintas. Ia menggabungkan berbagai bentuk karakter sehingga monster itu sebagian besar hanya terlihat sebagai siluet.
“Penonton bisa lihat kepalanya, mungkin terlihat seperti harimau, tapi sebenarnya itu kombinasi banyak hal, tangannya seperti (kaki) buaya, ada juga bentuk amuba,” jelas dia.
Harimau dipilih karena dalam budaya Jawa dianggap entitas spiritual yang dihormati, sekaligus berkaitan dengan Reog Ponorogo dalam cerita. Soal UFO yang ramai dibicarakan warganet, Kamila mengibaratkannya dengan kisah kekerasan seksual yang sulit dibuktikan.
“Idenya adalah, saya menemukan bahwa ketika saya mengikuti kisah soal kekerasan seksual, cerita itu sulit dibuktikan. Jadi sama seperti sulit membuktikan UFO itu nyata atau tidak. Jadi, pada akhirnya seperti mengatakan bahwa ini memang nyata, kekerasan seksual itu nyata.”
Kamila menyematkan harapan pada sosok Pertiwi, yang membuatnya mampu melanjutkan hidup setelah menjadi korban sistem. Seorang penonton juga menanyakan kesamaan adegan Pertiwi menulis puisi dengan film Kamila sebelumnya, “Yuni”, dan ia menjawab bahwa film adalah caranya memahami sesuatu.
“Itulah mengapa saya suka menggambarkan orang yang cari observasi, mencoba mempertanyakan dunia dan memahami dunia,” ujar sutradara yang sudah akrab dengan puisi sejak kecil.
Bagi Kamila, puisi adalah cara menarik untuk memahami sesuatu, yang ia tuangkan lewat karakter yang memakainya untuk mengerti pikiran mereka sendiri.
“Itu salah satu cara mengekspresikan pemikiran,” katanya.
Film ini digarap dalam waktu yang panjang dan menghadirkan berbagai representasi, termasuk gadis tuli dan karakter pengidap skizofrenia. Kamila berkolaborasi dengan banyak pihak, terutama komunitas saat riset, dan mengajak orang dari berbagai latar belakang membaca serta mendiskusikan skenario.
“Makanya dalam film ini kami berkolaborasi dengan banyak pihak, terutama komunitas-komunitas saat riset,” ujarnya.
Komunitas tuli dan skizofrenia ikut dilibatkan dalam proses itu. Semangat kebersamaan tersebut dipertahankan dalam film.
“Film ini bicara soal kekuatan kolektif, jadi saya kira semangat kolektif itu juga kami pertahankan dalam film.”
Sementara itu, Ifa Isfansyah mengatakan ide film ini lahir pada 2017, tetapi ia butuh waktu mempersiapkannya karena saat itu masih merintis sebagai produser. Ia baru fokus mengembangkan proyek ini setelah mengerjakan proyek lain hingga 2023.
“Kami mulai mengerjakan proyek lain sampai 2023, lalu kami mulai fokus mengembangkan ini karena menurut saya ini film yang penting, dan saya pikir saya tidak bisa mengerjakannya sendirian, jadi saya butuh banyak kolaborator untuk memproduksi film ini.”
Ifa bersyukur banyak pihak mendukung dan percaya pada visi Kamila hingga film ini terwujud. Dalam cerita, Pertiwi kembali ke kampung setelah 20 tahun, menghadapi penolakan keluarga dan warga, lalu menemukan orang-orang yang menerimanya, yaitu Mak Ira (Christine Hakim), Bisma (Arya Saloka), dan Niken (Hana Malasan).
Sumber : Antara
Baca juga : Strategi Porduser Film Empat Musim Pertiwi Bersaing di Oscar 2027






Comments