STARJOGJA.COM, Info – Sound healing atau terapi suara kini menjadi tren yang berkembang di industri wisata kebugaran (wellness tourism). Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menyebut jenis terapi ini sedang digemari secara global.
“Secara global yang lagi dinikmati itu sound healing. Ada macam-macam sound healing,” kata GKR Bendara dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
GKR Bendara, yang juga inisiator dan Ketua Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026, menyebut tidak ada jenis terapi suara yang lebih diminati karena masing-masing punya keunikan. Di Yogyakarta, terapi suara menggunakan singing bowl atau mangkuk logam hingga gamelan, dan salah satu tempatnya adalah Desa Wisata Nglanggeran di Kapanewon Patuk, Gunungkidul.
“Yang ada di Desa Wisata Ngelanggaran, kami sudah coba kemarin dan itu ternyata menarik sekali. Karena mereka ada tiga alat musik gamelan yang dimainkan dan itu membuat kita dalam berbagai tingkatan meditasi dan lain sebagainya,” kata GKR.
Dari sisi peminat, pengalaman ini digemari berbagai kalangan, termasuk mereka yang berusia sekitar 50 tahun.
“Kalau sound healing itu peminatnya sangat bervariasi, sampai usia 45-50,” ujarnya.
Menurut GKR Bendara, pengalaman terapi suara sejauh ini lebih banyak ditemukan di Bali dengan beragam variasi, sebagian memakai alat musik dari luar negeri. Berdasarkan pengamatannya di sana, wisatawan mancanegara yang banyak mencoba berasal dari China, Australia, dan Eropa. Selain terapi suara, wisatawan mancanegara berusia 50 tahun ke atas juga gemar yoga atau aktivitas dengan gerakan fisik ringan.
“Mereka mungkin ada yang kesulitan, ada yang seperti lutut dan yang sebagainya. Sehingga kalau meditasi dengan sound healing ini lebih untuk ke semua orang bisa,” kata dia.
Sumber : Antara
Baca juga : Mahasiswa KKN UGM Olah Minyak Jelantah Jadi Sabun dan Lilin Aromaterapi






Comments