STARJOGJA.COM, Info – Human flourishing dipahami sebagai kondisi ketika berbagai aspek kehidupan manusia berkembang secara utuh dan berada dalam keadaan baik. Konsep ini tidak hanya menempatkan manusia pada kondisi mampu bertahan hidup, tetapi juga berkembang secara psikologis, sosial, ekonomi, spiritual, serta memiliki kehidupan yang bermakna.
Dicky Sofjan, M.A., MPP., Ph.D., Dosen Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada menjelaskan terdapat enam domain kesejahteraan yang menjadi bagian penting dalam human flourishing. Keenamnya meliputi kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, serta stabilitas finansial.
“Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelasnya dalam Public Talk Show yang bertajuk Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif di Auditorium SPs UGM pada Selasa 29 September 2026.
Menurut Dicky, agama juga memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan sehari-hari yang pada akhirnya dapat berkaitan dengan tingkat kesejahteraan seseorang. Ia merujuk penelitian Global Human Flourishing (GFS) yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat human flourishing tertinggi dibandingkan 22 negara lainnya.
Hasil tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari pemahaman responden di Indonesia mengenai makna kehidupan serta kuatnya hubungan sosial. Kedua aspek tersebut dinilai menjadi bagian yang berkaitan dengan kondisi kesejahteraan manusia.
Dari perspektif Islam, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D. menyebut terdapat sejumlah konsep yang memiliki keselarasan dengan human flourishing. Di antaranya insan kamil yang mencakup keseimbangan fisik, akal, sosial, dan hubungan spiritual, serta hayat thayyibah, maslahah, dan tazkiyah an-nafs.
Menurut Fatimah, kehidupan yang baik dalam Islam berkaitan dengan perpaduan iman, amal, kebaikan, kesabaran, sikap memaafkan, serta prinsip maqasidul syariah. Prinsip tersebut mencakup perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan amal.
Sementara itu, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menekankan bahwa human flourishing juga tidak dapat dilepaskan dari hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan. Ia mendorong pentingnya solidaritas terhadap manusia sekaligus solidaritas terhadap bumi.
Kondisi ideal tersebut, menurutnya, merupakan keadaan ketika manusia dapat menjalani kehidupan yang terberkati dalam kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan kosmos. Perspektif tersebut memperluas pemaknaan kesejahteraan agar tidak hanya berfokus pada kondisi individu.
Perwakilan Human Flourishing Center UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., kemudian memaparkan lima pilar Human Flourishing UGM. Pilar tersebut mencakup health and wellbeing, justice and equity for business and society, interreligious and intercultural relations, education across the lifespan, serta integral ecology and sustainability.
Pengembangan lima pilar tersebut diarahkan untuk melihat kembali asumsi bahwa kemakmuran finansial selalu berbanding lurus dengan kualitas hidup yang lebih baik. “Harapannya kontribusi bapak ibu bisa memunculkan studi yang sesuai dengan keadaan di Jogja,” tuturnya.
Perspektif lain disampaikan Samantha Hauw dari Deakin University, Australia yang membahas kesejahteraan dari perspektif industrial dan keasliannya. Ia menjelaskan bahwa meskipun Australia merupakan negara makmur, kesejahteraan belum terdistribusi secara merata.
Masyarakat adat masih mengalami kerugian sosio-ekonomi akibat dampak kolonisasi dan ketimpangan struktural. Pada saat yang sama, masyarakat umum menghadapi persoalan seperti kesepian, kecemasan terhadap iklim, dan degradasi lingkungan.
Samantha juga menekankan prinsip non-hirarkis yang melihat kesehatan manusia memiliki keterkaitan dengan kesehatan alam. Perspektif tersebut menawarkan kebebasan yang tetap menjaga otonomi individu, tetapi berada dalam jaringan hubungan yang saling bergantung secara mendalam.
Sumber : Humas UGM
Baca juga : Rekor di Kompetisi Robot Humanoid Dunia 2026







Comments