JogjaKULifestyleSejarah

Museum Muhammadiyah Hadirkan Sejarah Muhammadyah dalam 8 Zona

0
Museum Muhammadyah
Museum Muhammadiyah (Khoirul Fitrian Baroroh)

STARJOGJA.COM, JOGJA— Museum Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Banguntapan, Bantul, menyajikan sejarah organisasi Muhammadiyah melalui empat lantai dan delapan zona pameran. Museum yang dibangun sejak 2017 dan resmi dibuka pada November 2022 ini menampilkan seluk beluk perkembangan Muhammadiyah sejak berdiri dari tahun 1912 hingga sekarang.

Lantai pertama menjadi area pengantar sebelum pengunjung masuk ke ruang pameran utama, sedangkan lantai kedua memuat zona berdirinya Muhammadiyah, lima pilar gerakan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), serta organisasi otonom seperti ‘Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan Tapak Suci.

Lantai ketiga menampilkan zona amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan serta persebaran Muhammadiyah di dalam dan luar negeri. Sementara itu, lantai keempat menampilkan ruang audiovisual tentang sejarah singkat berdirinya Museum Muhammadiyah.

Nadhif, salah satu edukator museum, mengatakan pembangunan Museum Muhammadiyah berlangsung selama beberapa tahun sebelum dibuka untuk umum.

“Museum Muhammadiyah ini sudah proses pembangunan dari tahun 2017 saat Pak Presiden Jokowidodo meelakukan peletakkan batu pertama di tanggal 22 Juli 2017, kemudian museum ini resmi dibuka pada November tahun 2022,” ujar Nadhif (12/08/2026).

Sementara itu, Azzam, edukator museum yang lain menjelaskan gagasan pembangunan Museum Muhammadiyah sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1980. Gagasan tersebut mulai direalisasikan setelah Muhammadiyah memasuki momentum satu abad pada 2010.

“Menyampaikan ide Muhammadiyah untuk membangun museum itu sudah sejak tahun 1980-an. Cuma baru dikerjakan ketika Muhammadiyah mulai mengadakan ulang tahun satu abad pada tahun 2010,” ungkap Azzam.

Menurut Azzam, penyusunan storyline menjadi tahap yang paling lama dalam proses pembangunan museum. Tahap ini berlangsung sekitar 2010 hingga 2018 dan mencakup penentuan isi museum, jumlah lantai, hingga tata letak koleksi.

“Nah untuk menyusun storyline, itu yang paling lama. Jadi kira-kira nanti Museum Muhammadiyah itu isinya apa sih, berapa lantai, dan sebagainya, itu yang paling lama,” jelasnya.

Penyusunan storyline melibatkan tim yang terdiri atas kurator, seniman, dan desainer yang sebagian besar berasal dari Yogyakarta. Sejumlah karya lukisan di museum juga dikerjakan oleh salah satu kurator yang turut terlibat dalam penyusunan konsep pameran.

Sebagian koleksi museum didatangkan langsung dari Belanda karena sejumlah arsip dan benda yang berkaitan dengan sejarah Indonesia masih tersimpan di negara tersebut.

“Ada beberapa koleksi atau tampilan-tampilan yang di Indonesia tidak ada, kita beli dari sana. Dari Belanda karena kan sejarah kita kebanyakan rail and lock itu di Belanda,” ujar Azzam.

Azzam mengatakan belum seluruh koleksi yang dimiliki museum ditampilkan kepada publik. Pihak museum juga berencana melakukan renovasi dan memperbarui koleksi pada masa mendatang.

Museum Muhammadiyah menyimpan sekitar 2.800 item arsip dan benda bersejarah. Museum ini dibuka untuk umum setiap Selasa hingga Ahad pukul 09.00–16.00 WIB.

Baca juga: Nusa Wastra, Pameran Kain Nusantara di Museum Sonobudoyo

Penulis: Khoirul Fitrian Baroroh

Animasi Murah Niu Lai Tembus Box Office China Raup Rp81 Miliar

Previous article

Kenali Berbagai Macam Permainan Tradisional di Museum Kolong Tangga

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in JogjaKU